Sang surya
kembali ke kediamannya.
Daun kelapa
menari- nari menyambut rembulan. Dinginnya angin menyelimuti diri Nasha yang
sedang menatap hempasan ombak. Seorang gadis cantik, baik hati, dan selalu
turut kepada ibunda tercintanya.
“Sha.”
panggil Tirta sambil memecahkan lamunan Nasha.
“Tirta, ada
apa?” tanya Nasha.
“Hmm, tadi
aku ke rumahmu, tapi kata bundamu kamu lagi pergi. Dan aku tahu pasti kamu ada
di sini.” jawab Tirta.
“Oh. Iya”
ucap Nasha singkat.
Tirta
adalah seorang teman laki laki yang begitu mengerti Nasha. Apapun keadaan
Nasha, selalu diketahuinya. Mereka berteman sejak kecil. Sepantar. Dan memiliki
hobi yang serupa. Menatapi langit- langit lautan. Mendengarkan bisikan ombak
lautan. Menghirup khasnya udara dekat lautan. Semenjak kepergian ayahandanya,
Nasha sering melamun. Bayangan perahu layar sang ayah, selalu melekat dalam
fikirannya. Terjadi sepuluh tahun silam. Tetapi sulit untuk terlupakan. Senyum
sang ayah mungkin selalu ia temukan saat berada di pantai kesayangannya itu.
Tirta mencoba mengembalikan senyum indah Nasha. Tetapi belum bisa ia dapatkan.
Dahulu,
setiap pagi mereka pasti selalu bersama- sama pergi mengantar ayah Nasha yang
akan pergi melaut. Tawa mereka bersama pasir lembut adalah masa- masa yang luar
biasa. Tirta selalu menjaga Nasha dimana pun dan kapan pun. Dan kini, sang
bunda merasa lebih tenang walau dirinya hanya sendiri karena ada sosok Tirta
yang begitu tulus melindungi putri kesayangannya.
“Kenapa
kesedihan Nasha belum juga hilang? Kenapa aku belum bisa mengembalikan
semuanya?” ucap Tirta dalam lamunannya.
Malam sudah
larut. Mereka bergegas pulang. Sesampainya Nasha di rumah...
“Sha, semua
yang ada di dunia ini adalah fana. Semua yang hidup pasti akan kembali
kepadaNya. Kamu jangan seperti ini terus ya, Sha.” Nasihat sang Bunda
Nasha pergi
ke kamar dan terlelap dalam tidurnya. Ketika mimpi, sang ayah hadir dan
mengajak Nasha untuk berlayar mengelilingi lautan. Sang Bunda melihat putrinya
tersenyum dalam tidur. Sebuah kebahagiaan yang sudah begitu lama dirindukan.
Pagi
harinya, Nasha membantu sang bunda untuk membersihkan halaman rumah. Tirta
datang dengan alat kebersihannya.
“Nashaaaaa,
aku ikutan ya?!” sambutan Tirta.
“Aku lagi
enggak mainan, Tir.” jawab Nasha.
“Ikutan
bersih- bersih, Sha.”
“Oh.
Yasudah.”
Dinginnya
sikap Nasha kepada TIrta tak membuatnya patah arang menggapai tujuan.
Sesekalinya Nasha tertawa karena melihat Tirta jatuh ketika sedang memanjat
pohon kelapa, membuat Tirta ingin selalu jatuh dari pohon itu. Karena bagi
Tirta, tawa Nasha adalah hidupnya.
Matahari
ternyata sudah menjulang tinggi hingga di atas kepala. Mereka menghentikan
aktifitas dan beristirahat. Waktunya makan siang. Ditemani hidangan laut dan
segarnya kelapa hijau petikan Tirta. Saat itu, laut bagaikan semakin luas tak
berujung. Air laut pasang. Semuanya hening. Terpaan angin menyapa mereka. Tirta
memandang Nasha yang sedang melamun. Hingga Nasha pun menyadarinya.
“Tir!,
Tir!” ucap Nasha.
Tirta tidak
merespon.
“Tirtaaaaaaaa!”
panggil Nasha lagi.
Tak ada
jawaban.
“Tir!”
panggil Nasha sambil menepuk pundak Tirta.
“Eh, eh,
Sha, hmmm eh.” ucap Tirta dengan paniknya.
Pada saat
itu Nasha tertawa lepas. Dia tidak mengerti dengan sikap Tirta yang kadang suka
di luar kewajaran. Hari ini adalah hari yang sangat tidak bisa dilupakan oleh
Tirta.
Keesokan
harinya, Nasha menemukan sebuah bambu kecil di depan pintu rumahnya. Di
dalamnya bergulung kertas yang bertuliskan.
“Senyummu
adalah nafasku. Tawamu adalah hidupku. Suaramu adalah jiwaku. Senangmu adalah
detak jantungku. Bisa salah satu dari pada itu tidak lagi ada padamu. Mungkin
aku tidak akan di dunia ini lagi.”
|
Pertanyaan
besar muncul dalam fikiran Nasha pada pagi hari ini. Ketika ia bertanya kepada
sang bunda. Sang bunda tidak mengetahui sedikit pun tentang surat bambu itu. Ia
pergi ke tepi pantai sambil bertanya pada diri sendiri. Tiba- tiba terlintas
nama Tirta. Ia segera pergi mencari Tirta. Ternyata Tirta sedang bermain pasir
dengan adik perempuannya yang bernama Haci. Dari kejauhan Tirta melihat Nasha
datang menghampiri. Hatinya bergetar. Tubuh berkeringat dingin. Dan adiknya
hanya bisa melihat sang kakak yang sedang terdiam kaku.
“Dia
membawa surat bambu itu. Dan Dia menghampiriku?” Tanya Tirta dalam hatinya.
“Tirtaaaaa,
aku dapet surat ini. Di dalamnya tertuliskan kata- kata yang begitu indah. Tapi
aku enggak tau orang yang ngirim ini siapa.” kata Nasha sambil menunjukan
bambunya.
“Oh.
Mungkin dia orang yang sayang sama kamu, Sha.” jawab Tirta.
“Hmmm, tapi
orangnya siapa? Aku mau tau. Bundaku tak tahu asal- usul datangnya surat ini.”
“Ya sudah,
sekarang kamu simpan saja surat bambu itu.” saran Tirta.
“Hmmm, iya
benar.” ucap Nasha dengan senyum indahnya.
“Ya Tuhan.
Senyum itu hadir. Dia hadir. Dia hadir.” ucap Tirta dalam hati sambil melamun.
“Yah, Tirta
mulai deh. Ayo Ci, kita tinggal kakakmu ini. Dia kalau sudah seperti ini tidak
perlu diperhatikan.” ajak Nasha kepada Haci dan meninggalkan TIrta sendiri
dalam lamunan.
“Hehehe iya
ka benar. Ayo kita ke kamarku saja!” ajak Haci.
Mungkin
Haci mengerti apa yang sedang terjadi. Karena Tirta sering bercerita tentang
Nasha kepadanya. Dan secara tidak langsung Haci juga membantu perjuangan sang
kakak. Tahap demi tahap langkah Tirta semakin menuju kesuksesan. Ketika
rembulan dan bintang sedang bersama. Ketika semua makhluk ciptaanNya sedang
terlelap dalam tidur. TIrta menjalankan misinya. Mengirim beratus- ratus surat
bambu untuk Nasha. Dan setiap pagi pula Nasha mendatangi Tirta sambil membawa
senyum. Sang Bunda kini mengerti. Dia juga memberikan dorongan kepada Tirta
agar Ia tetap semangat. Dia sangat berterima kasih dan hanya doalah yang dapat diberikan
untuk membalas semua perhatian dan perilaku baik Tirta kepada Nasha.
Hingga
suatu malam. Tiba- tiba Tirta berkeinginan untuk menemani ayahnya berlayar.
Tetapi di lain sisi, ternyata Haci merasa sedih. Mereka pergi dan akan pulang
esok sore hari. Layar berkembang lebar. Hewan malam terbang bagai pengawal.
Haci sedih karena tak ada yang menemaninya bermain. Ia memutuskan untuk pergi
ke rumah Nasha dan bercerita bahwa kakak dan ayahnya sudah pergi berlayar. Ia
meluapkan perasaan takut akan kehilangan sang kakak dan ayah. Hal ini membuat
Nasha kembali teringat akan masa lalu. Dari mentari terbit mereka menunggu
kepulangan TIrta di pinggir laut hingga mentari terbenam. Mereka melihat banyak
perahu layar mulai menepi. Mereka melihat dan mendatangi satu per satu setiap
perahu. Tetapi sosok Tirta belum juga muncul. Tak terasa bintang kecil datang.
Rasa takut Haci semakin berkembang. Nasha memohon kepada sang bunda agar
diperbolehkan menemani Haci sampai Tirta pulang. Saatnya tidur. Ketika sempat
memasuki kamar Tirta, Nasha melihat begitu banyak bambu dan setumpuk kertas
bertuliskan kata- kata indah seperti yang sering ia dapatkan akhir- akhir ini.
Haci melihat Nasha sedang membaca salah satu dari banyaknya lembaran kertas
itu. Dan Haci tak bisa berbuat apapun.
“Ka Nasha.”
ucap Haci.
“Ha.ci.”
ucap Nasha lemas dan menjatuhkan kertas itu.
“Ka Nasha.”
ucap Haci lagi.
“Maaf Ci,
aku mau pulang. Maaf aku tidak bisa menemanimu malam ini.” ucap Nasha sambil
berlari pergi.
Nasha mengerti sekarang. Ia mengerti apa yang terjadi. Setiap sore dan malam
selalu ia tunggu untuk menyambut Tirta. Merasa cemas dan tidak tenang ketika
perahu yang dibawa Tirta belum juga kembali pulang. Ia tak ingin Tirta pergi
seperti ayahnya. Berhari- hari Ia menunggu bagaikan bertahun- tahun. Haci dan
ibunda Nasha hanya bisa melihat Nasha yang sedang menatapi surat- surat bambu
dan ditemani sang fajar barat.
“Sepi.
Hening. Hanya ada bisikan angin. Tak ada bisikan Tirta.” ucap Nasha.
“Nasha,
senyummu adalah nafasku. Tawamu adalah hidupku. Suaramu adalah jiwaku. Senangmu
adalah detak jantungku. Bisa salah satu dari pada itu tidak lagi ada padamu.
Mungkin aku tidak akan di dunia ini lagi.” suara yang terdengar dari belakang
Nasha.
“Tirta?
Tirta? Tiir?” tanya Nasha sambil menoleh ke sana ke mari.
Ketika ia
melihat sosok Tirta. Ia langsung memeluk Tirta dengan eratnya. Dia meneteskan
air mata cemasnya. Ia meluapkan semuanya. Kebahagiaannya tak tergambarkan.
“Sha, aku
butuh senyummu, aku butuh tawamu, aku butuh kebahagiaanmu. Sha, aku harap itu
semua akan selalu hadir mulai detik ini. Untuk aku. Dan untukmu.” Ucap Tirta.
Haci dan
ibunda Nasha merasa begitu bahagia. Ketulusan hati bisa mengalahkan semuanya.
Dan ketidakputusasaan adalah kunci utama dari perjuangan Tirta.







0 komentar:
Posting Komentar