“Huh.
Bunga buat apa nih? Gue kan juga sahabat lo. Masa Tarin doang yang dikasih. Gue
mana?” Ucap Tiren dengan kesal.
Tarin,Tiren
dan Adrin sudah bersahabat sejak mereka duduk di Taman Kanak-Kanak sampai sekarang
mereka duduk di bangku SMP. Setiap hari bahkan sudah bertahun-tahun mereka
selalu menghabiskan waktu belajar,bermain dan bercanda ria bersama-sama. Tetapi,hati
Adrin berkata lain.
“Hai
Tiren. Pulang yuk!” Sapa Tarin yang membuat Tiren kaget dan langsung
menyembunyikan bunga yang dititipkan oleh Adrin.
“Ren,kenapa?
Kok wajahmu seperti itu. Aku Tarin. Bukan siapa-siapa. Udah kaya lihat orang
serem aja. Huh.” Ucap Tarin bingung.
“Emm,enggak
kenapa-kenapa kok. Ayo kita pulang. Gue juga udah laper nih.”
“Huh
kamu. Yasudah yu!”
Mereka
berpisah di depan gerbang rumah masing-masing. Sesampainya di depan pintu
rumah. Tiren mendapat panggilan telfon dari Adrin. Hati,wajah dan
perasaannyapun begitu gembira dan senang.
“Halo
Tiren!”
“Iya,
ada apa Drin?”
“Bunga
yang gue titipin ke Lo buat Tarin udah dikasih kan?”
“Heuh.
Kenapa Tarin lagi si?!”
“Loh.
Kok Lo jadi sewot gitu si. Gue kan cuma nanya dan minta tolong sama Lo.”
“Eh
iya maaf Drin. Gue lagi kecapean baru sampe rumah.”
“Oh,
terus udah dikasih belum?”
“Iya
udah. Tenang aja selama ada gue.” Ucap Tiren bohong.
“Makasih
ya sahabatku yang baik hati.” Ucap Adrin senang dan langsung menutup telfonnya.
“Belum
denger jawaban gue kok udah dimatiin.” Kekesalan yang di ucapkan oleh Tiren.
Malam
harinya di kamar Tiren. Tinta hitam tersurat lembar demi lembar di buku tulis
Tiren. Telfon genggam Tiren berbunyi dan ternyata ada panggilan dari Adrin. Senyum
dan wajah ceria tergambar dari muka Tiren.
“Halo
Ren, lo bisa ke depan rumah enggak?” tanya Adrin.
“Iya,
sebentar ya!” bergegas Tiren keluar rumah dengan senang.
Adrin
sudah membawa sebuah kado cantik di tangannya.
“Eh,
kado buat siapa tuh? Buat gue ya? Asik!” ucap Tiren semangat.
“Eh,
enak aja. Buat Tarin tau!” sangkal Adrin
“Terus
lo ngapain ke rumah gue kalo kado itu buat Tarin?”
“Mau
nitip kado ini, besok pagi kalo Lo ketemu sama dia Lo kasih ya!”
“Eh,
eh, eh, emangnya gue tukang pos apa yang bisa disuruh-suruh buat antar surat
atau barang. Enggak ah!”
“Ayolah,
Lo kan sahabat gue?!” rayu Adrin
“Iya
deh!” Jawaban paksaan.
Keesokan
harinya di kantin sekolah.
“Tireeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen,
Tarin suka kado yang dari gue enggak?” Ucap Adrin semangat.
“Ah,
udah ah. Gue laper. Nanti gue ceritain tapi kalau gue udah kenyang.” Jawab
Tiren dengan malas.
Di
perpusatakaan sekolah Adrin melihat Tarin sedang asyik membaca sebuah buku di
tangannya. Melihat sang pujaan hatinya sedang di depan mata Adrin pun mencari
kesempatan dan berpura-pura sedang memilih sebuah buku.
“Adrin,
sedang apa kamu di sini? Tidak seperti biasanya. Kamu enggak main bola basket
di lapangan? Hobby kamu.” Sapa Tarin denngan senyumnya yang begitu menyentuh
hati Adrin.
Adrin
tidak sadar bahwa dirinya sedang tersipu malu dan terpesona dengan senyum manis
dari Tarin.
“Adrin?”
Tanya Tarin.
“Eh
maaf, hmmm enggak apa-apa kok.” Jawab Adrin bingung.
“Loh,
kok jadi enggak nyambung begini ya?” ucap Tarin bingung melihat wajah
sahabatnya itu.
“Oh,
maaf”
“Yasudah,
kalau kamu juga ingin membaca buku. Ayo kita ke reading room!” Ajak Tarin
sambil menarik tangan Adrin.
Dengan
hati yang berbunga-bunga Adrin pun terlarut dalam ajakan Tarin.
“Rin,
gimana sama ka…”
Belum
selesai Adrin bertanya. Tiren pun datang dengan candanya yang sangat
mengagetkan.
“Woy!
Lagi pada ngapain? Kita main di depan lapangan yu. Sekalian nonton pertandingan
futsal. Kelas kita melawan kelas tetangga loh!” ajak Tiren tak diduga-duga.
“Wah,
ayo Ren! Aku juga ingin lihat! Ayo Drin!” Ikut Tarin semangat.
Waktu
istirahat selesai dan mereka langsung masuk ke dalam kelas. Tiren mendapatkan
sepucuk surat di kolong mejanya tetapi ditujukan untuk Tarin. Setelah dibaca, ternyata
surat itu dari Adrin. Tiren pun langsung menyembuyikan surat itu ke dalam
tasnya hingga Tarin tidak mengetahuinya.
Malam
harinya Tarin dan Adrin sudah berada di rumah Tiren untuk mengerjakan tugas
kelompok bersama. Tiren sedang sibuk mempersiapkan hidangan untuk cemilan di
dapur.
“Ren,
aku pinjam buku catatan IPA kamu ya. Catatanku kurang lengkap.” Ucap Tarin dari
ruang tamu.
“Ambil
aja. Buku IPA nya masih ada di tas sekolah gue kok. Tasnya ada di kamar gue”
Jawab Tiren yang lupa akan semua titipan Adrin yang ada di dalam tasnya.
Tarin
mengambil tas Tiren dan membawa ke ruang tamu. Saat membuka tas Tiren, Tarin
menemukan sepucuk surat,sebuah kado dan setangkai bunga mawar yang sudah layu. Ia
mengeluarkan benda-benda itu hingga Adrin melihatnya.
“Hah.
Itu kan…” Ucap Adrin terkejut.
“Ada
apa, Drin? Kamu tau ini punya siapa. Menurut aku benda-benda ini dari seorang
cowok yang suka sama dia. Tapi kenapa dia enggak pernah cerita sama aku ya? Dia pernah cerita sama kamu, Drin?” Ucap Tarin
bingung.
Di
tengah pembicaraan. Tiren datang dengan membawa minuman dan makanan. Minuman
yang ia bawa terjatuh ke lantai hingga perpecahan gelaspun terjadi. Saat itu
juga Adrin mulai berbicara.
“Ren,
apa maksud Lo belum kasih barang-barang itu ke Tarin? Gue nitip itu semua udah
dari dua minggu yang lalu. Gue kecewa sama sahabat gue sendiri. Enggak bisa
dipercaya.” Ucap Adrin dengan amarah yang berkobar.
“Ini
Drin, hmmm” Jawab Tiren gugup.
“Hmm,
hmm,apa?” Ucap Adrin kesal.
“Apa
si? Aku enggak ngerti yang kalian omongin. Kenapa aku enggak tau? Ada apa?”
Tanya Tarin bingung.
“Rin,
maafin gue ya. Sebenarnya semua benda ini titipan dari Adrin buat Lo. Dia suka sama
Lo.” Jawab Tiren sedih.
“Udah
lah. Ayo Rin kita pulang. Tiren udah enggak bisa dipercaya lagi.” Ajak Adrin.
“Drin,gue
kaya gini karena gue cemburu. Kenapa Lo mesti suka sama Tarin? Dia sahabat Lo. Gue
juga sahabat Lo. Tapi kenapa Lo harus suka sama dia sedangkan gue suka sama
Lo.” Ucap Tiren jujur.
“Oh,
aku ngerti. Sebaiknya aku pulang aja.” Ucap Tarin yang kecewa juga akan
sifatnya Tiren.
“Rin,
tunggu. Gue suka sama Lo. Tapi gue enggak berani buat kasih tau Lo yang sebenernya.
Gue enggak berani buat ungkapin itu semua. Gue emang laki-laki penakut. Tapi
gue mohon Lo jangan benci sama Gue. Please?” Ucap Adrin memohon.
“Gue
gimana, Drin?” Ucap Tiren.
“Udah
kamu tenang aja Ren. Aku nggak akan buat kamu sedih kok. Aku enggak akan terima
Adrin sebagai pacar. Kita semua bersahabat. Aku yakin hubungan kita lebih baik
seperti ini. Lebih seru dan lebih menyenangkan. Enggak perlu ada yang
cemburu-cemburuan lagi.” Ucap Tarin dengan bijak.
“Drin,
Lo mau kan maafin gue?” Tanya Tiren.
Tak
ada sepatah kata yang keluar dari mulut Adrin. Dia hanya membuang muka kepada
Tiren.
“Drin,
aku mohon. Maafin Tiren ya. Dia sahabat kita.” Bujuk Tarin sambil memegang
tangan Adrin.
“Ren,
sekarang kalian berdua harus saling memina maaf ya” Sambil memegang tangan
Tiren.
Tarin
menyatukan tangan mereka hingga mereka saling memaafkan. Ia bahagia menyaksikan
ini semua. Persahabatan mereka kembali membaik meskipun kini Tarin sudah
mengetahui kalau Tiren menyukai Adrin dan Adrin menyukai dirinya. Di dalam
lubuk hatinya yang paling dalam ternyata dia juga suka sama Adrin. Dia lebih
senang jikalau persaannya terpendam dan persahabatan dengan kedua temannya itu
tetap berjalan.







0 komentar:
Posting Komentar