• put your amazing slogan here!

    Just For You



               “Perasaan yang tidak akan pernah berubah jikalau aku tidak mempunyai niat untuk merubahnya. Kapankah aku bisa membuat diri ini memulai membuka untuk orang lain. Enam tahun sudah ku lewati untuk berusaha, tapi…perasaan itu tetap ada di hati ini. Oh Tuhan, tolonglah aku.”  Ucap Novi dalam hatinya.
                Walaupun baru saja hari ini ia menerima seseorang yang menyatakan rasa suka kepadanya, ia tetap menaruh hatinya pada cinta pertamanya. Ia akan berusaha untuk menghapus itu semua karena cinta pertamanya sudah menjadi milik orang lain.
                Remaja berusia empat belas tahun ini duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama. Ia mempunyai banyak teman yang sangat sayang padanya dan empat orang sahabat yang biasa teman-temannya kenal dengan sebutan “Club Lattah”.
                Keesokan harinya di sekolah.
                “Nov, gimana sama Alif? Dia orangnya baik kan?” Tanya Dian.
                “Iya baik.” Jawab Novi.
                “Tapi kenapa kamu terlihat sedih?” Tanya Adhin, Ersa dan Siti.
                Enggak apa-apa kok.”
                “Ayolah Nov, kita ini bersahabat, kamu boleh curhat kapanpun kamu mau, kita di sini ada untuk kamu.” Ucap Adhin dewasa.
                “Iya engga apa-apa, beneran deh. Makasi ya teman-teman. Oh iya, ayo kita pulang. Udah lumayan sore nih, tugas kelompok kita juga sudah selesai kan.” Ucap Novi lelah.
                Mereka berlima langsung pulang ke rumah masing-masing.Di rumah, Novi tetap berkomunikasi dengan Alif, walaupun setiap hari mereka juga selalu ketemu di sekolah. Tapi masalah terjadi lagi, setiap Alif ingin mengajak Novi untuk bermain keluar, Novi selalu tidak mau. Alif pun merasa lelah dan capek dengan semua ini. Novi yang selalu diam pun tidak pernah menyadari bahwa dirinya memberikan  perlakuan yang salah kepada Alif. Alif pun lebih memilih mengakhiri hubungananya dengan Novi. Malam itu juga hubungan mereka selesai dan menjadi teman kembali.
                “Nov, main yuk!” Ajak keempat sahabatnya.
                Novi hanya terdiam dan tidak memberikan respon apapun kepada para sahabatnya itu.
                Mereka yang bingung dengan sikap Novi langsung mencari tahu dengan bertanya kepada Alif.
                “Iya, gue sama Novi sudah selesai, kita lebih milih jadi temen biasa aja.” Perkataan yang di ucapkan oleh Alif.
                Itu lah jawaban dari kebingungan keempat sahabat Novi. Mereka langsung berusaha mencari senyumnya Novi lagi. Semua cowok  di sekolah yang mereka anggap care sama Novi disuruh menghibur Novi.
                Tapi tetap saja, semua usaha mereka sia-sia. Mereka tahu, yang ada di fikiran dan hati Novi hanyalah Hilman. Tapi mereka berempat bukan tipe cewek-cewek yang mudah patah semangat demi sahabatnya.
                Handphone Novi berdering.
                “Halo, ini siapa?” sapa Novi.
                Tak ada jawaban ataupun ucapan yang ia dengar.
                “Hallo, maaf ini siapa? Dan ada apa menelfon saya?”
                Tetap tidak ada jawaban.
                Tiba-tiba …
                “Novi…senyummu bagaikan nafasku.
    “Matamu menyinari hatiku.
    Dirimu pengisi rohani batinku.
    Berikanlah itu semuaa kepadaku Novi.
    Kembalikan itu semua untuk diriku.
    Jangan engkau siksa diriku dengan kesedihanmu dan tangismu.
    Novi…
    Tersenyumlah untukku.”
                Selesai memberikan sebuah puisi. Penelpon misterius itu langsung menutup telfonnya dan …
                “Tut .. tut .. tut…” suara yang Novi dengar.
                Hingga tidur Novi masij memikirkan penelpon itu. Novi tidak tahu ia siapa.
                Di sekolah …
                “Adhin, kemarin malam ada seorang cowok enggak tahu siapa menelfon aku dan langsung ngasih aku puisi. Pertanyaanku tentang siapa dia tidak dijawabnya. Dia langsung menutup telfonnya setelah selesai membacakan puisi.”
                “Wah, siapa ya? Dia ngefans sama kamu kali Nov!” Jawab Adhin.
                “Wah wah, ada penggemar baru, senengnya.” Tambah Siti.
                “Iya iya, boleh tuh dijadiin teman, Teman Tapi Mesra maksudku..” Canda Dian.
                “Iya betul, kenapa tidak?” nimbrung Ersa.
                “Duh, kalian ini. Hmm aku saja tidak tahu dia siapa.” Ucap Novi malu.
                Malam harinya…
    Nomor misterius itu menelfon lagi. Perasaan bingung yang hanya dimiliki Novi. Tapi Novi tetap mengangkatnya. Cowok itu memberikan puisi lagi. Malam yang membuat Novi bingung untuk kedua kalinya.
                Di sekolah saat istirahat Club Lattah membicarakan masalah penelpon misterius lagi. Mereka mencari tahu siapa dia.
                Dalam waktu tiga hari mereka tahu siapa penelfon mesterius itu. Ia adalah cowok yang mengikuti ekskul basket di sekolah. Mereka mempunyai ide. Semua ini tanpa di ketahui oleh Novi.
                Tiada malam tanpa puisi kiriman dari penelpon misterius itu. Hanya hal ini yang membuat Novi penasaran.
                Sesampainya di sekolah, ia mendapat setangkai bunga mawar yang bertuliskan, ku tunggu kamu di lapangan basket sehabis pulang sekolah.
                Bel pulang sekolah berbunyi. Novi langsung ke lapangan basket bersama para sahabatnya.
                “Suara dan puisi itu …” ucap Novi.
                “Ada apa Nov?” tanya keempat sahabatnya.
                Dari sudut lapangan sekolah terdengar…
                “Noviiiiiiiiiiiiii,mau nggak jadi cewek gue????”
                “Ternyata cowok misterius itu adalah Agil.” Ucap Novi terkejut.
                “Terima, terima,terima, terima, terima! Ayo terima!” ucap keempat sahabat Novi.
                “Kalian suda tahu ya sebelumnya!” Ucap Novi kesal tapi malu.
                “Novi, mau kan lo jadi cewek gue ? Please.” Ucap Agil.
                “Emh, gimana ya? Aku ..” jawab Novi bingung.
                “Udah, terima aja!” ucap Adhin nimbrung.
                “Iya Nov, kasihan dia. Dia sayang kok sama kamu.” Ucap Siti .
                Karena merasa takut mengecewakan para sahabatnya. Novi menerima Agil. Walaupun bukan dari hatinya.
                Novi mencoba berusaha melewati ini semua. Agil memang selalu mengisi hari Novi, tapi Novi tidak tulus jikalau ia mengucapkan sayang kepada Agil. Sampai akhirnya Agil merasa bahwa dirinya tidak mempunyai tempat di hati Novi. Agil pun lebih memilih mundur dari pada harus melihat Novi berdusta kepada dirinya sendiri.
                Club Lattah mendapatkan masalah yang sama untuk kedua kalinya.
                Pada akhirnya Novi mebuat keputusan dan membicarakan hal itu kepada CL, bahwa dirinya sudah tidak ingin di comblang-comblangin lagi. Ia juga meminta maaf karena sudah mengecewakan CL. Tapi memang dia tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Ia lebih baik terus menerus mencintai Hilman walaupun Hilman tidak menyadari hal itu dan Ia tetap senang dengan itu semua. Novi memang mempunyai sejuta kenangan indah dengan Hilman di saat mereka duduk di bangku SD meskipun hubungan mereka saat itu hanya berteman.


    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Blogger news

    Winnie The Pooh Glitter

    About

    Blogroll