Selimut tergerai, bantal dan guling berjatuhan, bagaikan gudang
sebutan yang pantas untuk kamar seorang remaja yang bernama Putri ini. Namanya
yang indah, tidak menggambarkan sedikit
pun akan dirinya.
“Put, Putri, bangun. Sudah pagi. Sekolah!” ucapan sang
Mama setiap pagi hari terutama hari sekolah.
Tak ada jawaban seperti biasa. Bahkan kamar seakan tak
ada seorang pun.
Tok tok tok … “ Putri, bangun ! Nanti kamu telat lagi, bangun
Put!” ucap sang mama lagi.
Teeeet…tettttt…teeeettt. Bel masuk sekolah berbunyi, semua
murid masuk, suasana sekolah mulai sepi.
“Misi Pak, saya Putri. Mohon bukakan gerbangnya Pak, Ayo
Pak Daso, saya mohon Pak, sekali ini saja Pak!” ucap Putri tergesa-gesa.
“Kamu ini Put, sudah bukan sekali ini saja kamu mohon ke
bapak.Toh bapak juga sudah hafal kok perkataan mu setiap pagi” jawab Pak Daso.
“Yasudah Pak, ayo buka gerbangnya.” Ucap Putri dengan
wajah sedih.
“Besok-besok jangan telat lagi ya!” jawab pak Daso.
“Iya iya, saya nggak janji ya Pak.” Canda Putri.
Masuk ke dalam kelas dengan aman dan sampai di tempat
duduk dengan selamat.
Siswi
kelas 9 SMP Nusantara ini sudah biasa melakukan itu semua. Teman sekelasnya
sudah hafal dengan kebiasaannya itu.
“Sudah
biasa telat enak ya, sudah mahir!” ucap Difa teman sebangkunya.
“Iya,
cobain lah walaupun sehari. Pasti ketagihan.” Saran Putri.
“Sudah kamu saja, aku sih tidak mau, nanti kamu ada
saingannya dong kalau aku juga seperti itu.” Canda Difa.
Waktu sekolah pun selesai. Putri langsung pulang ke
rumhanya.
“Maa
… aku pulang.” Ucap Putri.
“Langsung cuci kaki tangan dan muka, lalu makan, kerjakan
PR mu lalu tidur siang!” perintah sang mama.
Semuanya langsung dikerjakan Putri kecuali mengerjakan PR
dan tidur. Ia langsung bermain dengan teman-teman rumahnya.
Keesokan harinya seperti biasa, sang mama berkumandang
lagi. Walaupun seperti itu. Sang mama tidak memberikan hukuman sedikit pun
kepada Putri.
Putri sampai di depan gerbang sekitar pukul 9.00.
“Ada apa kamu Put? kamu telat lagi kan,mau mohon-mohon ke
Bapak lagi.”
“Bapak hafal saja. Makasih ya Pak.”
Dengan langkah perlahan lahan, Putri dapat lolos lagi
dari pengawasan guru.
“Lagi lagi dan lagi, kalau suatu saat kemalasanmu
ketahuan dan kena hukuman bagaimana Put?” tanya Difa menakut-nakuti.
“Yah Difa, itu kan kalau katahuan, kalau enggak, kan
lebih bagus lagi.” Ucap Putri santai
“Iya iya, salah lagi aku.” Ucap Difa sabar.
“Nah, seperti itu dong.” Ucap Putri senang.
“Tapi, Pak Daso itu baik sekali ya sama kamu, seharusnya kan
beliau yang memperketat tata tertib di sekolah ini, dan yang seperti kamu ini
harus di hukum.Tapi kamu malah keasyikan bisa selalu datang siang.”
“Iya dong, sampai lulus pun aku akan selalu datang lebih
siang.” Ucap Putri bangga.
Keesokan harinya…
Seperti biasa sekolah masuk
pukul 07.00 . Seluruh siswa sudah masuk ke dalam kelas masing-masing dan
mengikuti pelajaran.
Waktu menunjukan pukul 08.30. Terlihat seorang siswi yang
sedang menuju gerbang sekolah Nusantara.
“la la la la la … pagi Pak Daso.” Salam Putri kepada Pak
Satpam baru yang ia kira Pak Daso.
“Pagi. Maaf, anda siapa ya?!” jawab Pak Gito dengan
tegas.
“Loh, Bapak siapa? Pak Daso kemana? Kok anda yang jaga
gerbang.” Tanya Putri heran.
“Saya satpam baru di sekolah ini. Kamu siapa?” Jawab Pak
gito.
“Maaf Pak, saya Putri, hari ini saya telat Pak. Mohon di
bukakan gerbangnya Pak.” Jawab Putri santai.
“KAMU INI ! Setahu saya, sekolah ini memiliki Tata Tertib
yang tidak boleh sama sekali di langgar oleh siswa-siswinya. Tapi kamu, sudah
telat tanpa rasa takut, masih mohon di bukakan gerbang. TIDAK !” Jawab Pak Gito
kesal.
“Ayolah Pak, saya mohon. Sekali ini saja kok
Pak.Sebelumnya saya belum pernah telat.” Ucap Putri bohong.
“TIDAK”.
“Ayolah Pak, nanti saya tidak bisa mengikuti pelajaran. Saya
bisa di anggap tidak masuk hari ini, saya kan sudah kelas Sembilan, nanti kalau
absen saya ada tidak hadirnya,saya bisa-bisa tidak lulus Pak.”
“TIDAK!”
Waktu istirahat tiba. Difa teman sebangku Putri merasa
heran. Tidak seperti biasanya Putri tidak masuk. Walaupun setiap masuk Putri
selalu telat.
Sampai akhirnya Difa pergi menuju gerbang sekolah. Di
sana ia melihat Putri sedang memunguti sampah depan sekolah yang menurut
anak-anak baunya tak tertahankan.
“Putri, kenapa kamu, ada apa ?” tanya Difa heran.
“Difa, tolongin aku dong. Aku kena hukum nih sama Pak
Satpam baru. Padahal sebelumnya kan enggak pernah seperti ini.” Jawab Putri
malas.
“Iya iya, nolonginnya kalau kamu sudah jera ya dengan perilaku
mu itu.” Jawab Difa santai dengan canda.
Sebenarnya Difa merasa tidak tega dengan sahabatnya itu. Tapi
Difa juga ingin sahabatnya mendapat pelajaran berharga dan tidak telat lagi
jika berangkat ke sekolah. Sampai Bel pulang berbunyi Putri masih sibuk
melalukan hukumannya itu. Pak Gito sangat tidak suka dengan siswa-siswi yang
suka membuang-buang waktu dengan cara telat. Ia sangat menghargai waktu dan
taat terhadap tata terib. Tidak hanya di sekolah ini saja. Di sekolah
sebeblumnya Pak Gito juga seperti ini.
Seluruh siswa mulai keluar gerbang. Mereka melihat Putri
sang Putri Telat sedang di hokum oleh Pak Satpam baru sambil menertawakannya. Putri
hanya bisa menunduk dan merasa malu dengan dirinya sendiri. Padahal sebelumnya
ia tidak pernah kena hukuman jika telat.
“Pak, sudah ya. Teman-teman saya sudah pulang semua. Saya
juga ingin pulang.” Ucap Putri dengan rasa lelah.
“Iya, kamu saya izinkan pulang jika sudah saya laporkan
ke Bimbingan Konseling.” Jawab Pak gito.
Putri hanya bisa terdiam dan menyerah dengan apa yang
akan terjadi. Ia diantarkan ke ruang BK oleh Pak Gito. Guru Konseling pun
menelfon dan memberitahukan kepada Orang tua Putri untuk dating ke sekolah
menjemput Putrinya.
“Putri.” Ucap sang mama.
“Mama.” Jawab Putri.
“Selamat siang Ibu, saya Guru konseling di sekolah ini. Sebelumnya
saya belum pernah melihat Putri telat. Tapi kali ini, saya tidak bisa menolerin
akan kesalahan yang telah di buat Putri anda.” Ucap Guru Konseling dengan
jelas.
Setelah panjang lebar dijelaskan akan kesalahan putrinya.
Sang Mama merasa bersalah karena terlalu memanjakan dia. Di rumah pun Putri
mendapat hukuman dari sang mama, ia tidak diperbolahkan main selama satu bulan.
Ia hanya boleh belajar menata waktu untuk dirinya sendiri.
Putri menyesali akan kebiasaan buruknya itu. Pak Daso
yang selalu melindunginya dari hukuman juga tidak bisa melakukan hal itu lagi
karena beliau sudah memiliki umur yang cukup tua. Ia sudah mulai lelah jika
harus membuka dan menutup gerbang seklah yang besar itu. Dan beliau juga sudah
pergi ke kampung halamannya.
Keesokan harinya tepat pukul 7 pagi Putri sudah berada di
sekolah. Teman-temannya heran akan perubahan yang dimiliki Purtri sekarang.
Begitu pula dengan Difa. Ia sangat bangga dengan kemajuan sahabatnya itu.







0 komentar:
Posting Komentar