• put your amazing slogan here!

    Usul Si Djaya



                 “Assalamu’alaikum anak-anak”, 
                 ”Wa’alaikumsalam Bu!” Jawab serentak seisi kelas setelah ibu Guru Sri memberikan salam kepada para muridnya.
    “Anak-anak, Ibu Guru mempunyai sebuah tebak-tebakan untuk kalian khusus dipagi hari ini. Tebak-tebakannya yaitu hari apakah ini? “Hari rabu Bu” Ucap Dito dengan rasa percaya diri yang tinggi. “Dito, hari ini memeng hari rabu, tapi ada hari special lainya, ayooo tebak!” Sanggah bu guru dengan seru. ”Oohh, saya tahu bu, saya pasti benar, hari ini adalah hari ulang tahunya Dirman, iya kan!.”Jawab soleh dengan bangga. “Hahahahaha………”tawa seisi kelas dengan rasa perut yang menggelikan, hingga terbahak bahak. Begitu pula dengan Bu Sri. “Bu, hari ini adalah hari peringatan sumpah pemuda yang ke-81” Ucap seorang murid yang langsung menghentikan canda tawa di dalam kelas. ”Iya benar, kamu benar sekali Djaya, sangat tepaaaat.” Ucap Bu Sri bangga.
              Djaya adalah salah satu siswa kelas tiga SDN SUDIRMAN. Ia mempunyai 4 orang teman.Yang sangat bersahabat dengannya.Bu Sri adalah salah satu pengajar di SD tersebut, ia mengajar tentang bidang study IPS. Dan beliau termasuk guru yang sangat dekat dengan para muridnya di kelas 3A ini.
    “Ibu mempunyai tugas untuk kalian semua, Ibu ingin kalian memperingati hari sumpah pemuda kali ini dengan sesuatu hal yang masih berhubungan dengan hari ini. Tetapi kalian harus melaksanakan tugas dan kegitan ini di rumah masing masing. Besok lusa, kalian akan berbgai pengalaman tentang kegiatan kalian masing masing, mengerti?” Dengan panjang lebar Bu Sri menjelaskan hal itu.
    Bel pulang sekolah pun berbunyi,” Tet … tet … tet … tet…. Tet….”. Dirman, Dito, Ningrat, Djaya dan Soleh memutuskan untuk langsung mengerjakan tugas tersebut di rumah Djaya. Begitu banyak gagasan yang mereka miliki, sampai mereka pun merasa bingung dan sulit menentukan pilihan.
    “Bagaimana kalau kita menampilkan sebuah drama tentang perjuangan para pahlawan terhadap persatuan dan kesatuan Negara Indonesia yang dahulu pernah dihancurkan oleh penjajah!” usul Djaya sebagai pemecahan masalah mereka.
    “Tapi bagaimana ceritanya?”tanya Ningrat bingung.
    “Seperti ini ceritanya,persatuan dan kesatuan Indonesia,dapat kita simbolkan dengan perobekkan bendera merah putih. Nanti ada yang akan melarang hal itu terjadi seperti para pahlawan. Kebetulan, nanti malam aka nada acara peringatan sumpah pemuda di RT ku berupa panggung,kita akan tampil di panggung itu,bagaimana?” Jelas Djaya dengan semangat.
    “Waaaah, boleh juga itu!” Sambut Dirman,Dito,Ningrat,dan Sholeh tanpa memikirkan hal itu untuk kedua kalinya.
    Malam harinya … setelah mereka mempersiapkan persiapan drama. Mereka segera bergegas ke tempat acara. Sudah banyak petugas kepolisian yang berjaga begitu pula dnegan warga yang ingin menyaksikan. Tak di sangka drama yang akan  dibawakan oleh Djaya dan teman teman menjadi acara kedua setelah acara pertama yaitu pembukaan dari Bapak Tomo selaku keta RT.
    “Kita panggilkan, Djaya cs dengan drama yan bertemakan Bersatulah IndonesiaKu!” Panggil MC, dan diiringi tepuk tanagn yang sangat meriah.
    Rasa gugup mengahampiri mereka.rapi apapun yang merka rasakan, mereka harus tatep menampilkan drama tersebut. Djaya yang berperan sebagai penjajah melakukan adegannya dengan menguunting bendera merah putih menjadi dua bagian,Polisi yang ingin sekali menyaksikan drama dengan eingintahuannya yang tinggi meras aterkejut dengan adegan yang di peragakan Djaya.
    “Stoooooooooooooooop … !” Teguran Pak Polisi hingga mengheningkan suasana sambil menuju ke atas panggung dan mengajak Djaya untuk dibawa ke Kantor Polisi yang tidak terlalu dari tempat tinggal Djaya.
    Ketidaktahuan Ibu Djaya akan keadaan anaknya yang sedang berada di kantor polisi langsung di beritahukan oleh Dirman dan kawan-kawan.Bapak Tomo selaku ketua RT, Ibu Djaya dan Dirman dengan kawan-kawan bergegas menuju kantor polisi.
    Sesampainya mereka di sana, mereka dijelaskan tentang beberapa hal mengapa Djaya bisa dibawa ke kantor polisi. Bahwa drama yang ditampilkan oleh Djaya dan kawan-kawan tentang Bersatulah Indonesia tidak perlu menggunakan adegan pengguntingan bendera, karena hal itu berada di luar kewajaran.
    Dengan beberapa pembelaan dari bapak Tomo, Polisi akhirnya membebaskab Djaya. Ia sangat merasa merasa berhutang dan berterima kasih kepada Bapak Tomo. Karena ketidaktahuannya akibat yang akan diterima jika ia melakukan adegan seperti itu.
    Hari yang ditunggu merekapun tiba. Mereka akn menceritakan kepada Ibu Sri dan teman-teman tentang pengalaman mereka pada Hari Sumpah Pemuda. Ibu Sri lebih terkejut bahkan merasa bersalah dengan kejadian yang dialami Djaya dan teman-teman.
    “Djaya, Dito, Dirman, Ningrat, dan Sholeh, Ibu ingin meminta maaf kepada kalian semua. Karena Ibu tidak member batasan dengan apa yang harus kalian lakukan dalam mengerjakan tugas ini. Tetapi Ibu juga tidak menyangka kalian akan melakukan adegan seperti itu dalam drama untuk memperingati Hari Sumpah Pamuda.Anak-anak, kali ini kita semua mendapatkan banyak pengalaman dan hikmah dari kejadian ini. Hari Sumpah Pemuda tidak mesti melakukan hal di luar jangkauan kalian,kalian dapat membuat karya seni yang masih berhubungan dengan Hari Sumpah Pemuda seperti membuat puisi, poster, cerpen, dan yang lainnya. Beri tepuk tangan untuk teman-teman kalian ini yuuk..!” Bu Guru memberi semangat.
    Rasa haru dan bangga dirasakan dalam benak hati Djaya dan kawan-kawan. Mereka juga mendapat pengalaman berharga.Mereka yang masih berdiri di depan papan tulis kelas, menyuguhkan kalimat-kalimat sumpah pemuda secara serempak.

    “SUMPAH PEMUDA”

    “Kami putra dan putri Indonesia bertumpah darah yang satu,tanah air Indonesia”
    “Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu,bangsa Indonesia”
    “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan,bahasa Indonesia”


    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Blogger news

    Winnie The Pooh Glitter

    About

    Blogroll