“ Aku pernah
membaca sebuah doa yang memiliki arti, sesungguhnya hati manusia mudah
dibolak-balikan. Karena memang Allah SWT dapat melakukan hal itu”
Rayyan, seorang
akhwat yang mungkin sedang dilanda kegundahan dalam hatinya. Sejak duduk di
sekolah dasar hingga menengah pertama ia luar biasa takut dengan makhluk
ciptaan Allah yang biasa disebut “cowok”. Ketika teman-temannya berkata bahwa
ada seorang cowok yang memerhatikannya ia justru acuh. Tak perduli sama sekali.
Bahkan ia memiliki cerita ketika pulang sekolah dengan seragam merah putihnya.
“Rayyaaaaaan !”
panggil Randi dari kejauhan sambil berlari-lari.
“Ha?”
terkejutlah Rayyan.
“Aku bawa bunga
untukmuuuu!” ucap Randi terus mendekat.
“Lariiiiiiiiiiiiiiiii”
ucapan yang tepat bagi Rayyan.
Jarak rumah
yang dekat dengan sekolah ternyata berdampak positif bagi Rayyan. Larangan
untuk berdekatan dengan cowok memang sudah melekat dalam dirinya. Nasihat kedua
orangtua dan kerabat memang mengalir dalam darahnya. Mungkin kejadian itu
adalah awal dari sekian banyak kejadian unik lainnya bagi Rayyan tentang
“cowok”.
“Ya Allah, aku
takut” curahan hati Rayyan dalam doa.
Saatnya
terlelap dalam tidur.
“Rayyan, mau
kah kamu menjadi kekasihku?” seorang cowok yang tak begitu jelas wajahnya.
“Apaaaaa?” teriak Rayyan.
Tok tok tok ….
“Ray? Nak? Kenapa kamu? Buka pintunya!” ucap
Ummi dari luar kamar.
“Astaghfirulloh aladzim” sadarlah Rayyan dari
mimpinya.
Kini Rayyan duduk di sekolah menengah atas
negeri. Semakin luas pergaulan, tambahnya pengalaman, dan mungkin cerita-cerita
yang ia dapat sudah menjadi sebuah novel bestseller
jika diterbitkan. Banyak teman yang terkejut ketika ia sedang berbincang dengan
seorang cowok walau jarak di antara keduanya berkisar satu meter. Dan cowok itu
adalah Abi. Wajahnya selalu berselimut wudhu, suaranya dilantunkan hanya untuk
mengumandangkan adzan, Al Qur’an nul karim dibawanya setiap saat, ucapannya
dakwah bagi kawan-kawannya.
Rayyan menimbulkan senyum manis saat itu.
Semakin gemparlah sahabat-sahabatnya. Entah sebuah bertanda baik atau tidak.
Namun kejadian itu satu berbanding seribu. Ia mempunyai tiga tempat curhat
paling disayanginya. Allah SWT, Ummi, dan Rayyan’s diary. Belum pernah terselip
seorang nama cowok dalam curhatannya. Namun kini, Abi muncul sebagai yang
pertama. Membuatnya merasa aneh. Ketika terlamun dalam fikiran, Rayyan teringat
akan suatu acara keputrian di sekolahnya, ia bertengkar dengan cewek lain kelas
mengenai “pacaran”. Hal itu membuat Rayyan menjadi takut dengan Abi. Abi adalah
seorang cowok.
“Ray, kita sering lihat kamu berbicara dengan
Abi. Ngebahas apa sih?” tanya sahabatnya.
“Ngebahas apa aja yang bisa nambah pengetahuan”
jawab Rayyan.
“Oh. Lebih spesifik dong, Ray. Kita mau tau
niiih. Ya ya ya?” timpal sahabatnya yang lain.
“Ngomongin tentang pergaulan. Udah ah! Kepo
yaa? “
“Rayyan, dia ikhwan atau cowok?”
“Hmm, menurutku dia seorang ikhwan.”
“Ehem, Rayyan.” Ledek sahabat-sahabatnya.
“Eh, hmmm, ah, enggak tau deh. Udah ah,
mungkin juga dia cowok. Kenapa jadi bahas dia sih?!” jawab Rayyan gugup.
Ketika berkumpul di Masjid, Rayyan kembali
berjumpa dengannya. Ia tak berani melihat wajah ikhwan itu. Seperti ada batas.
Namun hatinya terus menuju padanya. Rasanya ia harus menjauh. Namun niatnya
seperti dipatahkan oleh sebuah tanggung jawab. Karena sebuah tugas mereka jadi
sering bertemu bahkan berdiskusi. Rayyan bingung harus berbuat apa. Hatinya
seperti ditarik oleh magnet yang sangat kuat. Tak sadar muncul sebuah
pertanyaan “Apakah ini yang namanya cinta? Enggak mungkin kan?”
Tiga hari kemudian, sahabatnya Azila
memberikan ia sebuah Al Qur’an kecil. Tak disangka, Al Qur’an itu adalah
titipan dari seorang ikhwan. Namanya Rizay. Ia siswa yang baru bergabung dalam
remaja Masjid. Sebulan berlalu, sungguh hal yang sangat di luar dugaan. Bagai
matahari dan bulan yang bertemu dalam suatu waktu. Rayyan terjatuh dalam sikap
Rizay. Sahabatnya sampai mencatat kejadian bersejarah itu. Bulan bergulir
hingga mencapai seratus dua puluh hari kemudian. Rayyan merasakan takut.
Mungkin sebuah pertanda bahwa Allah SWT. cemburu kepadanya. Selesainya
kedekatan mereka.
Hingga di puncak sekolah menengah atas ini,
hanya ada seorang ikhwan yang selalu membuat ia nyaman. Tak merasa takut ketika
berdiskusi. Seperti ada batas yang justru membuat Rayyan safety. Ia mungkin menyimpan nama ikhwan itu dalam hatinya. Bahkan
ia ingin menyerahkan nama itu kepada Allah agar tidak ada perasaan yang salah.
Seperti kesalahan yang ia lakukan beberapa bulan yang lalu. Namun belum juga
hilang dan ntah kapan.
“Jika ia membuatku semakin jauh dengan Mu Ya
Rabb, maka jauhkanlah, aamiin.” doa Rayyan.







0 komentar:
Posting Komentar