• put your amazing slogan here!

    5 Bulan


     

        
    “Allahu Akbar .. Allahu Akbar ..” Syams mengumandangkan adzan shubuh.
                “Allhamdulillahilladzi ahyana ba’dama amaatana wailaihinnusyuur, aamiin” doa Syabila saat terbangun dari tidurnya.
                “Subhanallah, adzan itu tak asing di telingaku” ucap Syabilla penuh fikir.
                Pesantren daerah Jawa tengah yang bernama “Khoirul Ummah” memang memiliki khas yang sangat terkenal. Kedisiplinan para santriwati dan santriwannya tak diragukan. Remaja muslim yang ingin menuntut ilmu di Pesantren ini cukup menggenggam jenjang waktu selama 3 tahun. Memiliki sebuah organisasi perkumpulan para remaja Masjid di dalamnya. Seorang ikhwan menjadi pemimpinnya. Dan akhawat sebagai wakilnya.
                Tahun ajaran baru muncul dan bersiap untuk penambahan para santri yang ingin terjun dalam perjuangan islam. Pertukaran kepengurusan segera menjadi trending topic di Pesantren ini. Syabila, sesosok santriwati yang terkenal akan kepemimpinannya, ketegasannya, keramahannya menjadi sorotan bagi santriwati serta kakak santri yang melihatnya. Terpilihlah ia menjadi ketua santriwati Pesantren Khoirul Ummah. Dengan ikhwan dipimpin oleh Nahly. Seorang adik santriwan yang luar biasa bisa mengalahkan ketegasan para kakak santriwan di atasnya.
                “Assalamu’alaikum Nahly, Allahu Akbar! Ku percayakan jabatan ini kepadamu sekarang” ucap Syams.
                “Wa’alaikumsalam Ka Syams. InsyaAllah. Allahu Akbar!” jawab Nahly tegas.
                Begitu pula dengan Aisya dan Syabila. Mereka saling berjabat tangan dan berharap satu sama lain agar selalu terjalin kerjasama yang baik antar rekan dan kakak santri yang telah menyerahkan amanah ini. Menjadi pemimpin organisasi perkumpulan Masjid Khoirul Ummah.
                Waktu pelaksanaan isra mi’raj Nabi Muhammad SAW. akan menjadi bahan buah bibir banyak orang. Dengan kepengurusan yang baru dan pastinya berubahan besar karena pemimpinnya seorang ikhwan muda. Seperti biasa, selalu ada pertemuan ba’da zhuhur hingga ashar tiba. Syuro’ besar akan diadakan. Dihadiri oleh seluruh panitia dan kakak santri yang sebentar lagi akan lulus dari Pesantren ini. Tentunya Ka Syams dan Ka Aisya. Diawali oleh Nahly yang berbicara.
                Pembicaraan menjadi sangat hangat. Banyak gagasan yang ditujukan. Nahly merasa berat dengan keputusan yang harus diambilnya. Para ikhwan tak ingin kalah dengan idenya. Semua harus tertampung. Syabila turut turun. Keadaan menjadi lebih tenang. Namun tak disangka, Ka Aisya berkata lain. Tak sependapat dengannya. Keadaan Masjid Khoirul Ummah memang sungguh berbeda kali ini. Panitia yang lain menjadi tak focus dan berpendapat sendiri ditempatnya. Membicarakan mana yang akan menang dalam syuro ini.
                “Astaghfirulloh, Aisya, Syabila. Cukup! La taghdob wa la kal jannah” ucap Syams.
                “Astagfirulloh aladzim ya Allah” ucap Aisya dan Syabila.
                Syams memberikan pendapatnya. Menyampaikan jalan tengah yang ia temukan tentu karna bantuan Allah SWT. Akhirnya suasana menjadi reda.
                Malam hari di kebun Pesantren …
                Syabila sedang muroj’ah hafalan surat Al Qur’an. Duduk bersandar di dua kursi yang saling bertolak belakang posisinya. Ia menyukai malam, kesendirian, dan kesunyian. Saat itulah ketika seluruh aktifitasnya selesai dan ia bisa melihat indahnya ciptaan Allah SWT. di atas sana.
                Tiba-tiba, terdengar suara yang mengikuti ayat Al Qur’an yang Syabila lantunkan. Syams duduk di kursi yang bertolak belakang dengan Syabila. Ia menjelaskan letak kesalahan tajwid yang Syabila lantunkan.
                “Ya Allah, astaghfirulloh” ucap Syabila lalu beranjak pergi dan meninggalkan Syams yang masih duduk.
                Sesampainya ia di kamar. Jantungnya begitu menggebu. Istighfar diucapkannya terus menerus. Ampunan kepada Allah SWT. ia panjatkan. Tak lama kemudian, ketika ia berdiri di balik jendela. Sesosok akhawat duduk berjauhan dari sisi Syams.
                “Ka Aisya?” dalam hati Syabila.
                Keesokan paginya ketika Syabila sedang mempersiapkan sarapan, sahabatnya memberikan sepucuk surat. Tertuliskan ikhwan di amplopnya. Isi dari surat itu adalah …
                “Assalamu’alaikum Syabila .. akhawat yang insya Allah terjaga hatinya. Mohon maaf bila sepucuk surat ini membuat hatimu resah dan tak tenang. Bertanya-tanya dan gundah. Aku tak kuasa berjumpa denganmu walau kita terjalin pada suatu tempat yang sama. Walau kita sering berinteraksi tentang Islam. Namun untuk menyampaikan ketakutan akan perasaan yang jatuh pada dirimu ini, akhirnya ku hanya bisa sampaikan melalui ini. Sekian banyak akhawat yang menghampiri, hati ini tak tersentuh. Kecuali dengan pemimpin santri yang satu ini, dan menjadi idaman para ikhwan. Wassalamu’alaikum. -Ikhwan khoirul ummah-“
                Perasaan Syabila bagaikan berlari di sircuit tanda tanya. Terus menerjangnya walau ia sudah mempercepat kecepatan. Bertanya pada sahabatnya siapa penulis surat ini. Namun, amanat tak boleh dilanggar. Harus dijaga. Dan Syabila tak bisa memaksakan. Sebelum tidur, ia menjalankan solat istikhoroh. Memohon kepada Allah SWT. siapa ikhwan ini. Memberikan jawaban atas keresahannya.
                Ahad, hari yang biasa untuk pengurus Masjid Khoirul Ummah mengkaji Al Qur’an bersama. Antara ikhwan dan akhawat selalu ada hijab. Dan kali ini yang menjadi pembicara adalah Ka Syams. Detak jantung Syabila kembali menggebu. Semakin kencang. Hingga dinginnya tangan tak sadar telah menyelimutinya. Ketika mata Ka Syams mengarah ke tempat akhawat, saat itu juga Syabila tertangkap menatapnya. Mungkinkah itu jawaban dari Allah SWT? hati Syabila semakin berguncang. Istighfar ia ucapkan terus dalam hati.
                Lima bulan sebelum kelulusan para kakak santriwati dan santriwan. Kalender selalu Syabila tatap tiap pagi. Mencoret setiap tanggal yang telah dilewati. Surat kedua datang dan berisi bahwa ikhwan itu akan menemuinya di tempat biasa mereka berinteraksi. Saat itu juga ia pergi ke Masjid Khoirul Ummah. Ada sesosok ikhwan yang sedang melakukan sholat sunnah dhuha. Syabila mengambil air whudu dan bergegas tuk tunaikan dhuha pula. Ketika menoleh ke kiri, Ka Syams datang dengan Ka Aisya. Lalu, siapakah ikhwan yang sedang sholat dhuha itu? Bisikan hati Syabila. Nahly? Semakin terombang ambing perasaan Syabila. Dalam doanya ia memohon kepada Allah SWT untuk diberi petunjuk.
                Selesainya sholat, Syabila melangkahkan kaki ke arah dapur putri, meniadakan segala fikiran tentang kejadian di Masjid tadi. Terdengar perbincangan bahwa Ka Syams dan Ka Aisya ternyata memiliki hubungan dekat. “ Praaaak ……. “ piring terjatuh dari genggaman Syabila. Tak lama kemudian Ka Aisya datang dan langsung menolong Syabila. Saat itu hati Syabila ingin sekali berteriak. Meluapkan semuanya. Bertanyakan siapa ikhwan itu jika bukan ia?
                “ Syabila, ukhti sedang ada masalah?” tanya Ka Aisya.
                “ La, Ka, Syukron “ jawab Syabila sambil membawa pecahan piring.
                Masjid Khoirul Ummah lah tempat ia meluapkan semuanya kepada sang pencipta. Tetesan air mata semakin menderas. Tak diduga, Ka Syams bertanya dari balik hijab.
                “ Assalamu’alaikum, ada apa Syabila? “
                “ Wa’alaikumsalam, la, Ka “
                “ Syabila, saya ingin menyampaikan surat ini untukmu “
                Dibacalah surat itu, dan huruf demi huruf sama seperti surat yang kemarin.
                “ Dari siapa ini, Ka? “
                “ Saya hanya menyampaikannya “
                Tak terasa bulan demi bulan telah berlalu. Ka Syams dan Ka Aisya sudah berlalu dari Pesantran Khoirul Ummah. Namun surat dari ikhwan itu belum juga berlalu. Para sahabat Syabila mulai terjun tuk selidiki masalah yang selalu mengusik hati Syabila. Munculah satu nama ikhwan yang mulai terang dalam fikiran Syabila.



    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Blogger news

    Winnie The Pooh Glitter

    About

    Blogroll