“Allahu
Akbar .. Allahu Akbar ..” Syams mengumandangkan adzan shubuh.
“Allhamdulillahilladzi ahyana
ba’dama amaatana wailaihinnusyuur, aamiin” doa Syabila saat terbangun dari
tidurnya.
“Subhanallah, adzan itu tak asing di
telingaku” ucap Syabilla penuh fikir.
Pesantren daerah Jawa tengah yang
bernama “Khoirul Ummah” memang memiliki khas yang sangat terkenal. Kedisiplinan
para santriwati dan santriwannya tak diragukan. Remaja muslim yang ingin menuntut
ilmu di Pesantren ini cukup menggenggam jenjang waktu selama 3 tahun. Memiliki
sebuah organisasi perkumpulan para remaja Masjid di dalamnya. Seorang ikhwan
menjadi pemimpinnya. Dan akhawat sebagai wakilnya.
Tahun ajaran baru muncul dan bersiap
untuk penambahan para santri yang ingin terjun dalam perjuangan islam.
Pertukaran kepengurusan segera menjadi trending topic di Pesantren ini.
Syabila, sesosok santriwati yang terkenal akan kepemimpinannya, ketegasannya,
keramahannya menjadi sorotan bagi santriwati serta kakak santri yang
melihatnya. Terpilihlah ia menjadi ketua santriwati Pesantren Khoirul Ummah.
Dengan ikhwan dipimpin oleh Nahly. Seorang adik santriwan yang luar biasa bisa
mengalahkan ketegasan para kakak santriwan di atasnya.
“Assalamu’alaikum Nahly, Allahu
Akbar! Ku percayakan jabatan ini kepadamu sekarang” ucap Syams.
“Wa’alaikumsalam Ka Syams.
InsyaAllah. Allahu Akbar!” jawab Nahly tegas.
Begitu pula dengan Aisya dan
Syabila. Mereka saling berjabat tangan dan berharap satu sama lain agar selalu
terjalin kerjasama yang baik antar rekan dan kakak santri yang telah
menyerahkan amanah ini. Menjadi pemimpin organisasi perkumpulan Masjid Khoirul
Ummah.
Waktu pelaksanaan isra mi’raj Nabi
Muhammad SAW. akan menjadi bahan buah bibir banyak orang. Dengan kepengurusan yang
baru dan pastinya berubahan besar karena pemimpinnya seorang ikhwan muda.
Seperti biasa, selalu ada pertemuan ba’da zhuhur hingga ashar tiba. Syuro’
besar akan diadakan. Dihadiri oleh seluruh panitia dan kakak santri yang
sebentar lagi akan lulus dari Pesantren ini. Tentunya Ka Syams dan Ka Aisya.
Diawali oleh Nahly yang berbicara.
Pembicaraan menjadi sangat hangat.
Banyak gagasan yang ditujukan. Nahly merasa berat dengan keputusan yang harus
diambilnya. Para ikhwan tak ingin kalah dengan idenya. Semua harus tertampung.
Syabila turut turun. Keadaan menjadi lebih tenang. Namun tak disangka, Ka Aisya
berkata lain. Tak sependapat dengannya. Keadaan Masjid Khoirul Ummah memang
sungguh berbeda kali ini. Panitia yang lain menjadi tak focus dan berpendapat sendiri
ditempatnya. Membicarakan mana yang akan menang dalam syuro ini.
“Astaghfirulloh, Aisya, Syabila.
Cukup! La taghdob wa la kal jannah” ucap Syams.
“Astagfirulloh aladzim ya Allah”
ucap Aisya dan Syabila.
Syams memberikan pendapatnya.
Menyampaikan jalan tengah yang ia temukan tentu karna bantuan Allah SWT.
Akhirnya suasana menjadi reda.
Malam hari di kebun Pesantren …
Syabila sedang muroj’ah hafalan
surat Al Qur’an. Duduk bersandar di dua kursi yang saling bertolak belakang
posisinya. Ia menyukai malam, kesendirian, dan kesunyian. Saat itulah ketika
seluruh aktifitasnya selesai dan ia bisa melihat indahnya ciptaan Allah SWT. di
atas sana.
Tiba-tiba, terdengar suara yang
mengikuti ayat Al Qur’an yang Syabila lantunkan. Syams duduk di kursi yang
bertolak belakang dengan Syabila. Ia menjelaskan letak kesalahan tajwid yang
Syabila lantunkan.
“Ya Allah, astaghfirulloh” ucap
Syabila lalu beranjak pergi dan meninggalkan Syams yang masih duduk.
Sesampainya ia di kamar. Jantungnya
begitu menggebu. Istighfar diucapkannya terus menerus. Ampunan kepada Allah
SWT. ia panjatkan. Tak lama kemudian, ketika ia berdiri di balik jendela.
Sesosok akhawat duduk berjauhan dari sisi Syams.
“Ka Aisya?” dalam hati Syabila.
Keesokan paginya ketika Syabila
sedang mempersiapkan sarapan, sahabatnya memberikan sepucuk surat. Tertuliskan
ikhwan di amplopnya. Isi dari surat itu adalah …
“Assalamu’alaikum Syabila .. akhawat
yang insya Allah terjaga hatinya. Mohon maaf bila sepucuk surat ini membuat
hatimu resah dan tak tenang. Bertanya-tanya dan gundah. Aku tak kuasa berjumpa
denganmu walau kita terjalin pada suatu tempat yang sama. Walau kita sering
berinteraksi tentang Islam. Namun untuk menyampaikan ketakutan akan perasaan
yang jatuh pada dirimu ini, akhirnya ku hanya bisa sampaikan melalui ini.
Sekian banyak akhawat yang menghampiri, hati ini tak tersentuh. Kecuali dengan
pemimpin santri yang satu ini, dan menjadi idaman para ikhwan. Wassalamu’alaikum.
-Ikhwan khoirul ummah-“
Perasaan Syabila bagaikan berlari di
sircuit tanda tanya. Terus menerjangnya walau ia sudah mempercepat kecepatan.
Bertanya pada sahabatnya siapa penulis surat ini. Namun, amanat tak boleh
dilanggar. Harus dijaga. Dan Syabila tak bisa memaksakan. Sebelum tidur, ia
menjalankan solat istikhoroh. Memohon kepada Allah SWT. siapa ikhwan ini.
Memberikan jawaban atas keresahannya.
Ahad, hari yang biasa untuk pengurus
Masjid Khoirul Ummah mengkaji Al Qur’an bersama. Antara ikhwan dan akhawat
selalu ada hijab. Dan kali ini yang menjadi pembicara adalah Ka Syams. Detak
jantung Syabila kembali menggebu. Semakin kencang. Hingga dinginnya tangan tak
sadar telah menyelimutinya. Ketika mata Ka Syams mengarah ke tempat akhawat,
saat itu juga Syabila tertangkap menatapnya. Mungkinkah itu jawaban dari Allah
SWT? hati Syabila semakin berguncang. Istighfar ia ucapkan terus dalam hati.
Lima bulan sebelum kelulusan para
kakak santriwati dan santriwan. Kalender selalu Syabila tatap tiap pagi.
Mencoret setiap tanggal yang telah dilewati. Surat kedua datang dan berisi bahwa
ikhwan itu akan menemuinya di tempat biasa mereka berinteraksi. Saat itu juga
ia pergi ke Masjid Khoirul Ummah. Ada sesosok ikhwan yang sedang melakukan
sholat sunnah dhuha. Syabila mengambil air whudu dan bergegas tuk tunaikan
dhuha pula. Ketika menoleh ke kiri, Ka Syams datang dengan Ka Aisya. Lalu,
siapakah ikhwan yang sedang sholat dhuha itu? Bisikan hati Syabila. Nahly?
Semakin terombang ambing perasaan Syabila. Dalam doanya ia memohon kepada Allah
SWT untuk diberi petunjuk.
Selesainya sholat, Syabila
melangkahkan kaki ke arah dapur putri, meniadakan segala fikiran tentang
kejadian di Masjid tadi. Terdengar perbincangan bahwa Ka Syams dan Ka Aisya
ternyata memiliki hubungan dekat. “ Praaaak ……. “ piring terjatuh dari
genggaman Syabila. Tak lama kemudian Ka Aisya datang dan langsung menolong
Syabila. Saat itu hati Syabila ingin sekali berteriak. Meluapkan semuanya.
Bertanyakan siapa ikhwan itu jika bukan ia?
“ Syabila, ukhti sedang ada
masalah?” tanya Ka Aisya.
“ La, Ka, Syukron “ jawab Syabila sambil
membawa pecahan piring.
Masjid Khoirul Ummah lah tempat ia
meluapkan semuanya kepada sang pencipta. Tetesan air mata semakin menderas. Tak
diduga, Ka Syams bertanya dari balik hijab.
“ Assalamu’alaikum, ada apa Syabila?
“
“ Wa’alaikumsalam, la, Ka “
“ Syabila, saya ingin menyampaikan
surat ini untukmu “
Dibacalah surat itu, dan huruf demi
huruf sama seperti surat yang kemarin.
“ Dari siapa ini, Ka? “
“ Saya hanya menyampaikannya “
Tak terasa bulan demi bulan telah
berlalu. Ka Syams dan Ka Aisya sudah berlalu dari Pesantran Khoirul Ummah.
Namun surat dari ikhwan itu belum juga berlalu. Para sahabat Syabila mulai
terjun tuk selidiki masalah yang selalu mengusik hati Syabila. Munculah satu
nama ikhwan yang mulai terang dalam fikiran Syabila.







0 komentar:
Posting Komentar