“YAH! Gerbang sekolah impian gue ko udah tutup? Masih boleh
masuk gak nih?” ucap Tian dengan nafas yang tersenggal- senggal.
Dengan
gaya bagaikan seorang TNI AD, Pak Satpam menghampiri Tian yang berada di luar
gerbang.
“Kamu
siswa di sekolah ini? “ tanya Pak Sat. Panggilan gaul untuk Bapak Satpam SMP
Negeri 5 Jakarta Utara.
“Iya
Pak“ jawab Tian.
“Sekarang
kamu mau ngapain di sini?”
“Saya
mau sekolah lah, Pak!”
“Kamu
siswa baru, ya?”
“Iya
Pak”
“Kamu
pasti sudah mengetahui tata tertib di sekolah ini, bukan?”
“Iya
Pak”
“Kamu
bisanya iya iya saja! Kenapa bisa telat?! …..”
Bla…
bla.. bla.. percakapan tersebut terus berlangsung hingga proses upacara bendera hari senin berakhir.
Gerbang belum juga terbukakan. Tian hanya bisa menuruti apapun perintah Pak
Sat. Hari pertamanya memasuki sekolah baru terasa melelahkan. Seperti bertemu
MOS untuk kedua kalinya.
Selesainya
Ia menyelesaikan hukuman. Ia baru diperbolehkan masuk ke kelasnya. Semua siswa
sudah berada di dalam kelas. Ia mendapat kelas 7.1. Letaknya dekat dengan
kantin sekolah.
“Tok Tok
Tok”
“Pemisi
Pak. Maaf saya telat” ucap Tian cemas.
“Ya.
Silakan duduk” jawab Pak Gito singkat.
“Huh,
syukur deh. Gurunya cuek” ucap Tian dalam hatinya.
Ia
langsung menempati tempat duduk kosong satu- satunya di kelas itu. Tak disangka
kini teman sebangkunya adalah seorang perempuan. Mulailah Ia mendapat teman
baru. Perkenalan singkat terjadi.
Perempuan itu bernama Cindy. Seorang perempuan berkulit putih. Rambut
hitam dan lurus bagaikan sapu lidi. Memiliki postur tubuh yang ideal.
Waktu
istirahat tiba.
“Eh yan,
ke kantin yuk!” ajak Cindy seru
“Ayo!”
ucap Tian semangat.
Sesampainya
mereka di kantin. Bagaikan berada di pasar. Ramai dan sulit untuk lewat. Tian
pun menyuruh Cindy untuk menunggu saja di dekat kelas. Dan dirinya sendiri
berjuang untuk bisa membeli dua mangkuk mie goreng. Setelah didapatnnya. Ia
bergegas ke kelas dan menghampiri Cindy.
“Hari
pertama sekolah udah punya teman akrab kaya gini. Seru lagi. Udah gitu, gak
malu bergaul atau berteman sama cewek” ucap Cindy dalam hati sambil
menyumpitkan mie nya.
Bel
pulang sekolah berbunyi. Tian dan Cindy keluar gerbang bersama. Sesampainya di
luar gerbang sekolah mereka saling diam.
“Dy,
rumah lo dimana?” suaraTian memecahkan keheningan di antara mereka.
“Dari
sini, lurus terus, sampe ketemu perempatan lampu merah, ke kanan, terus ketemu
perumahan, udah deh masuk aja, deket ko” jawab Cindy semangat.
“Oh
yaudah ya, berarti kita berlawanan arah. Gue duluan. Lo hati- hati di jalan”
ucap Tian ramah.
“Oh my god… senyumnya..” dalam benak Cindy.
Hari
demi hari mereka lewati bersama. Sekolah bagaikan rumah kedua bagi mereka.
Kelas 7.1 bagaikan kamar berbagi keluh kesah. Awal pertemanan berbunga manis
hingga berbuah persahabatan. Tak terduga oleh Cindy bahwa dirinya dan Tian
sudah duduk berdua selama dua tahun. Mungkin teman- teman yang melihat
keakraban mereka akan merasa jealous. Nun kupu- kupu dan bunga lah hubungan
mereka. Ketika Cindy mendapatkan masalah besar Tian pasti memberikan saran dan
semangat. Suatu hari Cindy memiliki masalah dengan orang tuanya. Sikapnya acuh
dan tak perduli dengan apa yang dihadapinya sekarang. Tian sebagai sahabatnya
ikut turun menyelesaikan masalah ini. Ia sebagai perantara antara orang tua
Cindy dan Cindy. Tak menunggu sampai berbulan- bulan masalah itu selesai. Cindy
makin merasa bahwa Tian adalah cowok yang luar biasa. Dia bisa menjadi seorang
sahabat, kakak, dan mungkin akan menjadi seorang pangeran tak berkuda suatu
hari nanti.
Setahun
bagaikan sebulan, sebulan bagaikan seminggu, seminggu bagaikan sehari, sehari
bagaikan satu jam, jam berputar bagaikan menit, dan begitu cepat waktu
mengalir. Persiapan untuk berjumpa dengan kata LULUS harus berhadapan dengan
UJIAN NASIONAL terlebih dahulu. Tian tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.
Ia belajar tak kenal lelah. Ia belajar tak kenal waktu. Ia belajar tak kenal
dengan kata malas. Tujuan untuk diterima di SMP impian sudah terwujudkan. Kini
harus lulus dari sekolah impian dan harus masuk sekolah impian selanjutnya.
Semangat Tian tak dapat dihentikan. Cindy merasa sepi. Cindy merasa sahabatnya
hilang ditelan buku.
Cindy
menghampiri Tian yang sedang asik mengutak atik soal di perpustakaan.
“Yan,
gue punya masalah ni. Gue belom pernah kan curhat tentang cowok yang gue suka?”
ucap Cindy tegang.
“Oh. Ada
apa emangnya?” jawab Tian singkat.
“Ya
sekarang Gue mau cerita, dengerin dulu”
“Gue gak
bisa ninggalin soal- soal ini Dy, kapan- kapan aja ya ceritanya”
Karena
kecewa Cindy langsung beranjak pergi dan membanting pintu perpustakaan. Keheningan
dalam ruangan pecah.
Melewati
ulangan harian. Memberikan senyuman kepada ujian nasional. Tak patah arang
menyelesaikan ujian praktek.
“LULUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUSSSS…….!”
teriak Tian sambil melompat tinggi.
“Tiaaaaaaan,
hebat, NEM 39 mau dibawa kemana ni???” tanya Cindy ingin tahu dan berharap bisa
bertemu dengan Tian di sekolah lanjutan yang sama.
“Mau
dibawa kemana.. hubungan kita..” canda Tian.
“Ih
malah nyanyi. Kaya suara lo bagus aja yan” jawab Cindy senang.
Tian
diterima di sekolah unggulan SMA Negeri 77 Jakarta Pusat. Sedangkan Cindy masih
berada di Jakarta Utara. Tak bertemu dengan Tian adalah siksa bagi Cindy. Tak
ada yang memberikan nasihat panjang lebar. Tak ada yang memberikan guyonan lucu
ketika jam istirahat. Ternyata siksaan itu tak berlangsung lama. Mereka
berkomunikasi lagi lewat jejaring sosial
facebook dan twitter. Tak lazim ditelinga pelajar dan para remaja. Bahkan orang
dewasa pun tak ingin kalah dengan effect dari perkembangan zaman komunikasi
tersebut. Cindy selalu bersyukur ketika Ia bisa mengetahui apapun keadaan Tian.
Tian mengajak Cindy untuk jalan- jalan mengelilingi daerah Jakpus.
Memperlihatkan sekolah baru dan seluruh warna- warna yang tersajikan. Setiap
detik yang Ia lewati bersama Tian sekarang merupakan sebuah anugrah. Tak ingin
dilewatkan begitu saja. Langkah kaki menyelusuri jalan mulai terasa berat dalam
fikiran Cindy.
“Hmm
yan” ucap Cindy serius.
“Kenapa?
Ada masalah lagi yaa? Hayo hayo?” jawab Tian dengan candanya.
“Serius
ah yan!”
“Iya.
Ayo kita serius”
“Tian, serius!”
ucap Cindy kesal
“Peace
Dy, peace, heh.. he.. he..” jawab Tian.
“Yan,
sadar enggak si? Kita udah bertahun tahun kenal. Gue…. Hmmmm…. Suka sama lo!”
“Hah?!”
shock Tian sambil menelan ludah.
Suasana
langsung berubah. Bagaikan berdiri di atas sebuah jembatan kecil. Yang tak kuat
untuk menopang dua orang yang ingin lewat. Tak bisa bergerak. Mundur akan
terjatuh. Maju akan terputus. Detik seperti tak berputar.
Tian tak
mengucapkan satu patah katapun. Cindy menangis dan berlari mencari kendaraan
untuk kembali pulang. Perasaannya kecewa luar biasa ketika Tian tak
menghentikan langkahnya. Komunikasi hilang hingga berbulan- bulan.
Kekecewaannya terhadap Tian tak mengalahkan rasa sayangnya. Walau Tian tak tahu
bahwa dirinya selalu diperhatikan oleh Cindy, Cindy selalu mencari tahu
bagaimana kabar Tian. Entah melalui temannya yang masih berkomunikasi dengan
Tian, maupun melewati timeline. Tian
sebagai seorang cowok dewasa dan mengerti semua sifat Cindy, ingin
menyelesaikan masalah ini. Tak ada gunanya berdiam diri. Untuk apa bunga
pertemanan yang sudah berbuah persahabatan dibiarkan hilang begitu saja. Tian
kembali menghubungi Cindy. Saat ini Tian begitu merasakan rasa sayang yang
Cindy berikan kepadanya. Tetapi rasa sayang Tian kepada Cindy hanya sebatas
sayang sahabat. Cindy berharap akan terjadi sebuah keajaiban dalam diri Tian.
Tetapi keajaiban itu mungkin hanya sebuah mimpi belaka. Yang Tian lakukan
sekarang hanya meminta maaf dan berharap agar hubungan ini cukup sebatas
sahabat saja yang justru keindahnya luar biasa.







0 komentar:
Posting Komentar