“Ayah, teman-teman Sabit ingin
melihat perkebunan kakao kita. Kira-kira kapan mereka bisa Sabit ajak?”
nimbrung Sabit.
“Syukur ya Bund, semoga usaha kita
selalu mengalami peningkatan, amin. Tentu bisa anakku. Tapi ada syaratnya,”
jawab Pak Sadam.
“Apa Yah?”
“Kalau ingin bermain ke kebun kakao
kita, kamu dan teman-temanmu harus menyelesaikan tugas dan pr sekolah terlebih
dahulu.”
“Sip, Yaaah!” sahut Sabit gembira nun cahaya bulan di atas
langit.
Rumahku, istanaku. Itulah dua kata
yang begitu berarti bagi Sabit, seorang anak laki-laki yang duduk di bangku
kelas 3 SDN Sambirembe 01, Magetan, Jawa Timur. Ayahnya bernama Sadam, seorang
pengusaha perkebunan kakao yang sangat terkenal di penjuru Desa Sambirembe.
Sang Bunda tercinta, cantik, nun lembut tutur katanya bernama Bunda Risha.
Bintang penerang bumi mulai beranjak
dari kediamannya. Si Jago Merah menggemakan seluruh pemukiman tempat tinggal
Sabit.
“Sreeeng.. sreeng.. sreng..”
“Ayah, Sabit, ayo lekas kemari!
Sarapan lezat, halal, nikmat, ala Bunda Risha sudah menanti.” Panggil Bunda.
Jam dinding memerintahkan Pak Sadam
dan Sabit untuk segera meninggalkan kediaman mereka. Seperti biasa, Pak Sadam
dan Sabit mengayuh sepeda bersama-sama. Melewati hijaunya sawah yang diselimuti
kabut tebal. Hembusan angin segar nun lembut. Dan hamparan langit yang indahnya
tak dapat dilukiskan.
Sesampainya Sabit di kelas …
“Teman-teman, aku sudah mengatakan
keinginan kita untuk bermain di kebun Ayah,” kata Sabit.
“Ayo! Nanti saja sepulang sekolah!
Bagaimana?!” ajak Bibim, salah satu sahabat Sabit.
“Aku setuju!”
“Aku juga!” Ucap yang lainnya seru.
Selama pelajaran berlangsung, yang
difikirkan oleh Sabit dan teman-temannya hanyalah kebun kakao. Mereka sudah tak
sabar menunggu bel pulang berbunyi. Bahkan Bibim terlarut oleh khayalannya akan
kebun tersebut. Gambaran hamparan coklat terlukis nyata.
“Bibiiiim! Apakah kamu ingin
bertanya?!” Tanya Bu Guru Rini.
“Itu Bu, buah kakaonya sudah matang,
ayo kita makan coklat!” jawab Bibim spontan.
“Huahaha …” tawa seisi kelas.
Jam sekolah berakhir. Seluruh siswa
kembali ke rumahnya masing-masing. Berbeda dengan Sabit dan teman-temannya yang
berencana untuk berkunjung ke kebun kakao. Mengayuh sepeda bersama hingga
terhenti pada sebuah jalan yang ramai dengan kerumunan warga Desa Sambirembe.
“Deg.. deg.. deg.. deg..” detak jantung Sabit.
Sabit melihat sepeda Ayahnya tergeletak di sisi kiri
jalan. Lalu ia mencoba untuk masuk ke tengah-tengah kerumunan warga. Ia melihat
mata sang Ayah tertutup. Ketika ia memanggil Ayahnya tak ada jawaban sepatah
kata pun. Air matanya yang jernih mengalir deras di pipi tembem Sabit. Bunda
Risha datang dan tak bisa berkata-kata. Hanya tangislah yang bisa menggambarkan
isi hatinya saat itu. Kambuhnya penyakit jantung Sang Suami memang tak bisa
dihindarkan kedatangannya.
Rencana untuk bermain di kebun kakao sudah tak
terfikirkan lagi oleh Sabit dan teman-temannya. Sebuah kejadian yang tak dapat
diramalkan oleh Sabit dan Sang Bunda. Keesokan paginya, hijaunya sawah berubah
menjadi abu-abu. Segarnya udara terasa bercampur dengan polusi. Kini Bunda
Risha yang menemani Sabit untuk pergi ke sekolah. Setelah pulang sekolah Sabit
merindukan Ayahnya dan pergi ke kebun kakao. Dari 1000 hektar tanah yang
terbentang, hanya 500 hektar yang baru ditanami oleh pohon kakao. Muncul lampu bohlam
terang dalam otaknya. “Aku ingin sukses seperti Ayah!”
“Sabit, sedang apa kau nak? Tidak langsung pulang ke
rumah?” Tanya salah satu karyawan kebun kakao Sang Ayah.
“Bapak, apakah aku bisa meneruskan usaha Ayah ini?”
ucap Sabit dengan lamunnya.
“Ya, kamu tentu bisa Sabit. Kemahiran Ayahmu pasti
tertanam dalam dirimu juga.”
“Apakah benar, Pak?”
“Tentu.”
Bulatnya tekad mengantarkan Sabit untuk berhenti
sekolah dan mulai untuk mempelajari apa yang Ayahnya lakukan selama ini. Di
usianya yang sangat belia, dia termasuk seorang anak yang berani mengambil
keputusan besar. Bunda Risha melihat keyakinan itu dari mata sang anak. Ia pun
merestui apa yang ingin dilakukan oleh Sabit. Seluruh warga desa gempar dengan
berita tersebut.
Ketika sedang asyik belajar berkebun ..
“Sabit! Bisa sekali ya kamu mengambil seluruh
perhatian warga desa ini! Ayahku juga memiliki perkebunan yang tidak kalah luas
dengan kebun kakao Ayahmu!” ucap Wiko cetus.
Sabit menghiraukan perkataan Wiko dan terus belajar
menanam. Wiko tidak suka diperlakukan seperti itu hingga ia melempari Sabit
dengan gumpalan-gumpalan tanah. Sabit tetap tak memperdulikan. Tiba-tiba Pak
Harim datang dan membantu anaknya mencaci maki Sabit. Petugas kebun kakao
akhirnya menolong Sabit yang tak bersalah. Kedua pihak dapat dileraikan.
Malam harinya, Sabit bertanya pada Sang Bunda
tentang perlakuan yang dilakukan Wiko dan Ayahnya tadi siang.
“Bunda, Sabit rindu Ayah,” ucap Sabit sedih.
“Bunda juga anakku,” jawab Bunda Risha.
“Bunda, mengapa Ayah tega meninggalkan kita berdua
saja?”
“Ayahmu tidak meninggalkan kita,”
“Bunda, mengapa Wiko dan Pak Harim tega dengan
Sabit? Apakah Sabit bersalah Bund?” Tanya Sabit disertai isak tangis.
“Tidak anakku, kamu tidak bersalah sama sekali.”
“Bund, ceritakan mengapa hal itu bisa terjadi?”
“Usiamu masih terlalu belia nak, tapi sikapmu
menggambarkan perilaku Ayahmu. Dahulu, Ayahmu dan Pak Harim adalah kakak
beradik. Tapi karena pembagian ahli waris, salah satu di antara mereka merasa
tidak mendapat keadilan. Walaupun Kakekmu sudah memikirkan pembagian tersebut
dengan matang. Api cemburu belum juga reda hingga saat ini”
Di tengah cerita Sang Bunda, Sabit tertidur. Hari
demi hari, niat Sabit untuk meneruskan perjuangan Ayahnya semakin kuat. Pohon
kakao pertama dia tanam. Selesai pohon pertama berlanjut ke pohon kedua,
ketiga, keempat, dan seterusnya. Dalam waktu seminggu ia berhasil menanam 10
pohon. Seluruh petugas kebun kakao terkejut. Tapi mengapa pohon itu tidak
berbuah sesuai dengan waktu yang telah diperkirakan Sabit. Sabit terus mencoba
hingga separuh dari sisa tanah yang belum ditanami oleh Sang Ayah telah ia
tanamin pohon kakao.
“Sudah sebulan aku menunggu satu pohon saja yang
berbuah. Tapi mengapa belum muncul tanda-tandanya?” dalam hatinya Sabit
bertanya.
“Bit, Bunda belum bisa menjual coklat kalo tidak ada
pohon kakao yang berbuah,” Ujar Bunda Risha ketika menghampiri Sabit.
“Bunda, aku lelah menunggu pohon-pohon ini berbuah,”
“Hahaha... menyerah saja kau Sabit. Kau itu tidak
seperti Ayahmu!” teriak Wiko dari luar kebun kakao.
“Lihatlah kebunku, berbuah lebat. Apa yang sudah kau
lakukan? Apa hasilnya? Huahaha..” Ucap Wiko sombong sambil tertawa
terbahak-bahak.
Bunda Risha dan petugas kebun kakao merasa iba
dengan apa yang dialami oleh Sabit. Ia berlari menuju rumah dan mencari
berkas-berkas Sang Ayah tentang kebun kakaonya itu. Tidak ditemukan rumus jitu
untuk membuat pohon cepat berbuah. Petugas yang lainnya juga tidak mengetahui
karena mereka hanya mengelola pohon kakao ketika sudah berbuah dan menjaga
kebersihan kebun.
Wiko dan Ayahnya terus berusaha menurunkan semangat
Sabit. Dengan memperlihatkan hasil penjualan coklat ataupun buah kakao yang
mereka punya dengan tinggi hati. Bunda Risha tak bisa berbuat apapun. Kini
keadaan kebun kakao Sabit dan keluarganya mengalami penurunan. Petugas yang
bertahan tinggal 5 orang. Tanah yang masih harus Sabit garap sekitar 50 hektar.
“Ayah, aku harus berbuat apa? Aku ingin seperti
Ayah. Aku ingin membantu Ibu, Yah.” Tanya hati kecilnya.
Detik beranjak menjadi menit, menjadi jam, hari,
minggu, bulan. Keadaan hati Sabit semakin tak karuan. Perkataaan kasar yang
diucapkan oleh Wiko terus membayang difikirannya. Begitu pula dengan tekadnya
agar tanah ini menjadi rumah bagi seluruh pohon kakao. Terus mencangkul,
menanam bibit, menyirami, mencangkok, apapun iya lakukan agar tujuannya
tercapai. Petir dan kilat menyapa, hujan pun datang, angin berhembus dahsyat.
Menjatuhkan beberapa pohon kakao hasil tanaman Sabit.
“Sudahlah Bit, buat apa kau membuang seluruh
tenagamu hanya untuk menanami pohon kakao yang tak bisa berbuah itu? Buat apa?
Tak guna!” Hina Wiko sambil berpayungkan sehelai daun pisang.
“Aku ingin seperti Ayah.” Jawab Sabit singkat.
“Keras kepala! Bermuka Tebal!” timpal Wiko dan
kembali pulang.
Kegigihan Sabit untuk terus mencoba membuat warga
Desa Sambirembe salut dengannya. Petugas kebun yang sebelumnya mengundurkan
diri datang lagi untuk membantu. Bunda Risha masih bersabar dengan semua
keadaan ini. Sedikit demi sedikit, tanah kosong itu berubah menjadi lautan
pohon kakao. Walaupun belum ada buah yang dapat ia petik, ia terus menanam.
Dengan tambahnya bantuan, bertambah pula kobaran api semangat dalam diri Sabit.
Kekhawatiran menyelimuti hati Wiko dan Ayahnya.
Mereka merasa tersaingi karena warga mulai memperdulikan Sabit. Tak ingin kalah dengan semangat Sabit, seluruh
pohon kakao milik Wiko dan Ayahnya diberi obat agar cepat berbuah. Dengan tidak
menunggu waktu yang lama, bukan buah kakao yang mereka dapatkan tapi kematian
dari seluruh pohon yang mereka punya. Wiko dan Sang Ayah sudah angkat tangan
dengan keadaan tersebut. Mengabaikan kegagalannya lalu datang menghampiri Sabit
dan memohon belas kasih. Bunda Risha yakin putranya bisa memberikan sikap yang
sepantasnya untuk Wiko dan Pak Harim.
Menuju sebidang tanah terakhir yang dapat ditanamin
sebuah pohon kakao. Sabit menarik nafasnya, dan mulai mencangkul tanah,
perlahan namun pasti. Ketika menancapkan cangkulnya ke dalam tanah, terasa
benturan cangkul dengan benda yang terbuat dari kayu. Sabit terus menggali
tanah itu hingga ditemukan sebuah kotak kecil. Secepatnya ia ambil dan
membersihkan bagian atasnya. Dibukalah kotak kecil itu. Di dalamnya terdapat
selembar kertas yang bertuliskan…
|
Lihat apa yang telah kamu
lakukan..
Tanah seluas 1000 hektar..
Kakao- kakao itu akan tumbuh
beberapa bulan setelah penanaman..
Tak perlu menunggu hasilnya..
100 % berusaha+doa = Manisnya hasil
|
…
jawaban atas seluruh pertanyaan Sabit.
“Anakku, dimana ada kesulitan disitu
ada kemudahan.” Bunda Risha memeluk putra yang paling membanggakannya.







0 komentar:
Posting Komentar