• put your amazing slogan here!

    1 Dari 1000


                “Ayah, hari ini coklat Bunda terjual 20 toples, loh.” Ucap Bunda Risha bahagia.

                “Ayah, teman-teman Sabit ingin melihat perkebunan kakao kita. Kira-kira kapan mereka bisa Sabit ajak?” nimbrung Sabit.

                “Syukur ya Bund, semoga usaha kita selalu mengalami peningkatan, amin. Tentu bisa anakku. Tapi ada syaratnya,” jawab Pak Sadam.

                “Apa Yah?”

                “Kalau ingin bermain ke kebun kakao kita, kamu dan teman-temanmu harus menyelesaikan tugas dan pr sekolah terlebih dahulu.”

                “Sip, Yaaah!”  sahut Sabit gembira nun cahaya bulan di atas langit.

                Rumahku, istanaku. Itulah dua kata yang begitu berarti bagi Sabit, seorang anak laki-laki yang duduk di bangku kelas 3 SDN Sambirembe 01, Magetan, Jawa Timur. Ayahnya bernama Sadam, seorang pengusaha perkebunan kakao yang sangat terkenal di penjuru Desa Sambirembe. Sang Bunda tercinta, cantik, nun lembut tutur katanya bernama Bunda Risha.

                Bintang penerang bumi mulai beranjak dari kediamannya. Si Jago Merah menggemakan seluruh pemukiman tempat tinggal Sabit.

                “Sreeeng.. sreeng.. sreng..”

                “Ayah, Sabit, ayo lekas kemari! Sarapan lezat, halal, nikmat, ala Bunda Risha sudah menanti.” Panggil Bunda.

                Jam dinding memerintahkan Pak Sadam dan Sabit untuk segera meninggalkan kediaman mereka. Seperti biasa, Pak Sadam dan Sabit mengayuh sepeda bersama-sama. Melewati hijaunya sawah yang diselimuti kabut tebal. Hembusan angin segar nun lembut. Dan hamparan langit yang indahnya tak dapat dilukiskan.

                Sesampainya Sabit di kelas …

                “Teman-teman, aku sudah mengatakan keinginan kita untuk bermain di kebun Ayah,” kata Sabit.

                “Ayo! Nanti saja sepulang sekolah! Bagaimana?!” ajak Bibim, salah satu sahabat Sabit.

                “Aku setuju!”

                “Aku juga!” Ucap yang lainnya seru.

                Selama pelajaran berlangsung, yang difikirkan oleh Sabit dan teman-temannya hanyalah kebun kakao. Mereka sudah tak sabar menunggu bel pulang berbunyi. Bahkan Bibim terlarut oleh khayalannya akan kebun tersebut. Gambaran hamparan coklat terlukis nyata.

                “Bibiiiim! Apakah kamu ingin bertanya?!” Tanya Bu Guru Rini.

                “Itu Bu, buah kakaonya sudah matang, ayo kita makan coklat!” jawab Bibim spontan.

                “Huahaha …” tawa seisi kelas.

                Jam sekolah berakhir. Seluruh siswa kembali ke rumahnya masing-masing. Berbeda dengan Sabit dan teman-temannya yang berencana untuk berkunjung ke kebun kakao. Mengayuh sepeda bersama hingga terhenti pada sebuah jalan yang ramai dengan kerumunan warga Desa Sambirembe.

    “Deg.. deg.. deg.. deg..” detak jantung Sabit.

    Sabit melihat sepeda Ayahnya tergeletak di sisi kiri jalan. Lalu ia mencoba untuk masuk ke tengah-tengah kerumunan warga. Ia melihat mata sang Ayah tertutup. Ketika ia memanggil Ayahnya tak ada jawaban sepatah kata pun. Air matanya yang jernih mengalir deras di pipi tembem Sabit. Bunda Risha datang dan tak bisa berkata-kata. Hanya tangislah yang bisa menggambarkan isi hatinya saat itu. Kambuhnya penyakit jantung Sang Suami memang tak bisa dihindarkan kedatangannya.

    Rencana untuk bermain di kebun kakao sudah tak terfikirkan lagi oleh Sabit dan teman-temannya. Sebuah kejadian yang tak dapat diramalkan oleh Sabit dan Sang Bunda. Keesokan paginya, hijaunya sawah berubah menjadi abu-abu. Segarnya udara terasa bercampur dengan polusi. Kini Bunda Risha yang menemani Sabit untuk pergi ke sekolah. Setelah pulang sekolah Sabit merindukan Ayahnya dan pergi ke kebun kakao. Dari 1000 hektar tanah yang terbentang, hanya 500 hektar yang baru ditanami oleh pohon kakao. Muncul lampu bohlam terang dalam otaknya. “Aku ingin sukses seperti Ayah!”

    “Sabit, sedang apa kau nak? Tidak langsung pulang ke rumah?” Tanya salah satu karyawan kebun kakao Sang Ayah.

    “Bapak, apakah aku bisa meneruskan usaha Ayah ini?” ucap Sabit dengan lamunnya.

    “Ya, kamu tentu bisa Sabit. Kemahiran Ayahmu pasti tertanam dalam dirimu juga.”

    “Apakah benar, Pak?”

    “Tentu.”

    Bulatnya tekad mengantarkan Sabit untuk berhenti sekolah dan mulai untuk mempelajari apa yang Ayahnya lakukan selama ini. Di usianya yang sangat belia, dia termasuk seorang anak yang berani mengambil keputusan besar. Bunda Risha melihat keyakinan itu dari mata sang anak. Ia pun merestui apa yang ingin dilakukan oleh Sabit. Seluruh warga desa gempar dengan berita tersebut.

    Ketika sedang asyik belajar berkebun ..

    “Sabit! Bisa sekali ya kamu mengambil seluruh perhatian warga desa ini! Ayahku juga memiliki perkebunan yang tidak kalah luas dengan kebun kakao Ayahmu!” ucap Wiko cetus.

    Sabit menghiraukan perkataan Wiko dan terus belajar menanam. Wiko tidak suka diperlakukan seperti itu hingga ia melempari Sabit dengan gumpalan-gumpalan tanah. Sabit tetap tak memperdulikan. Tiba-tiba Pak Harim datang dan membantu anaknya mencaci maki Sabit. Petugas kebun kakao akhirnya menolong Sabit yang tak bersalah. Kedua pihak dapat dileraikan.

    Malam harinya, Sabit bertanya pada Sang Bunda tentang perlakuan yang dilakukan Wiko dan Ayahnya tadi siang.

    “Bunda, Sabit rindu Ayah,” ucap Sabit sedih.

    “Bunda juga anakku,” jawab Bunda Risha.

    “Bunda, mengapa Ayah tega meninggalkan kita berdua saja?”

    “Ayahmu tidak meninggalkan kita,”

    “Bunda, mengapa Wiko dan Pak Harim tega dengan Sabit? Apakah Sabit bersalah Bund?” Tanya Sabit disertai isak tangis.

    “Tidak anakku, kamu tidak bersalah sama sekali.”

    “Bund, ceritakan mengapa hal itu bisa terjadi?”

    “Usiamu masih terlalu belia nak, tapi sikapmu menggambarkan perilaku Ayahmu. Dahulu, Ayahmu dan Pak Harim adalah kakak beradik. Tapi karena pembagian ahli waris, salah satu di antara mereka merasa tidak mendapat keadilan. Walaupun Kakekmu sudah memikirkan pembagian tersebut dengan matang. Api cemburu belum juga reda hingga saat ini”

    Di tengah cerita Sang Bunda, Sabit tertidur. Hari demi hari, niat Sabit untuk meneruskan perjuangan Ayahnya semakin kuat. Pohon kakao pertama dia tanam. Selesai pohon pertama berlanjut ke pohon kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Dalam waktu seminggu ia berhasil menanam 10 pohon. Seluruh petugas kebun kakao terkejut. Tapi mengapa pohon itu tidak berbuah sesuai dengan waktu yang telah diperkirakan Sabit. Sabit terus mencoba hingga separuh dari sisa tanah yang belum ditanami oleh Sang Ayah telah ia tanamin pohon kakao.

    “Sudah sebulan aku menunggu satu pohon saja yang berbuah. Tapi mengapa belum muncul tanda-tandanya?” dalam hatinya Sabit bertanya.

    “Bit, Bunda belum bisa menjual coklat kalo tidak ada pohon kakao yang berbuah,” Ujar Bunda Risha ketika menghampiri Sabit.

    “Bunda, aku lelah menunggu pohon-pohon ini berbuah,”

    “Hahaha... menyerah saja kau Sabit. Kau itu tidak seperti Ayahmu!” teriak Wiko dari luar kebun kakao.

    “Lihatlah kebunku, berbuah lebat. Apa yang sudah kau lakukan? Apa hasilnya? Huahaha..” Ucap Wiko sombong sambil tertawa terbahak-bahak.

    Bunda Risha dan petugas kebun kakao merasa iba dengan apa yang dialami oleh Sabit. Ia berlari menuju rumah dan mencari berkas-berkas Sang Ayah tentang kebun kakaonya itu. Tidak ditemukan rumus jitu untuk membuat pohon cepat berbuah. Petugas yang lainnya juga tidak mengetahui karena mereka hanya mengelola pohon kakao ketika sudah berbuah dan menjaga kebersihan kebun.

    Wiko dan Ayahnya terus berusaha menurunkan semangat Sabit. Dengan memperlihatkan hasil penjualan coklat ataupun buah kakao yang mereka punya dengan tinggi hati. Bunda Risha tak bisa berbuat apapun. Kini keadaan kebun kakao Sabit dan keluarganya mengalami penurunan. Petugas yang bertahan tinggal 5 orang. Tanah yang masih harus Sabit garap sekitar 50 hektar.

    “Ayah, aku harus berbuat apa? Aku ingin seperti Ayah. Aku ingin membantu Ibu, Yah.” Tanya hati kecilnya.

    Detik beranjak menjadi menit, menjadi jam, hari, minggu, bulan. Keadaan hati Sabit semakin tak karuan. Perkataaan kasar yang diucapkan oleh Wiko terus membayang difikirannya. Begitu pula dengan tekadnya agar tanah ini menjadi rumah bagi seluruh pohon kakao. Terus mencangkul, menanam bibit, menyirami, mencangkok, apapun iya lakukan agar tujuannya tercapai. Petir dan kilat menyapa, hujan pun datang, angin berhembus dahsyat. Menjatuhkan beberapa pohon kakao hasil tanaman Sabit.

    “Sudahlah Bit, buat apa kau membuang seluruh tenagamu hanya untuk menanami pohon kakao yang tak bisa berbuah itu? Buat apa? Tak guna!” Hina Wiko sambil berpayungkan sehelai daun pisang.

    “Aku ingin seperti Ayah.” Jawab Sabit singkat.

    “Keras kepala! Bermuka Tebal!” timpal Wiko dan kembali pulang.

    Kegigihan Sabit untuk terus mencoba membuat warga Desa Sambirembe salut dengannya. Petugas kebun yang sebelumnya mengundurkan diri datang lagi untuk membantu. Bunda Risha masih bersabar dengan semua keadaan ini. Sedikit demi sedikit, tanah kosong itu berubah menjadi lautan pohon kakao. Walaupun belum ada buah yang dapat ia petik, ia terus menanam. Dengan tambahnya bantuan, bertambah pula kobaran api semangat dalam diri Sabit.

    Kekhawatiran menyelimuti hati Wiko dan Ayahnya. Mereka merasa tersaingi karena warga mulai memperdulikan Sabit. Tak  ingin kalah dengan semangat Sabit, seluruh pohon kakao milik Wiko dan Ayahnya diberi obat agar cepat berbuah. Dengan tidak menunggu waktu yang lama, bukan buah kakao yang mereka dapatkan tapi kematian dari seluruh pohon yang mereka punya. Wiko dan Sang Ayah sudah angkat tangan dengan keadaan tersebut. Mengabaikan kegagalannya lalu datang menghampiri Sabit dan memohon belas kasih. Bunda Risha yakin putranya bisa memberikan sikap yang sepantasnya untuk Wiko dan Pak Harim.

    Menuju sebidang tanah terakhir yang dapat ditanamin sebuah pohon kakao. Sabit menarik nafasnya, dan mulai mencangkul tanah, perlahan namun pasti. Ketika menancapkan cangkulnya ke dalam tanah, terasa benturan cangkul dengan benda yang terbuat dari kayu. Sabit terus menggali tanah itu hingga ditemukan sebuah kotak kecil. Secepatnya ia ambil dan membersihkan bagian atasnya. Dibukalah kotak kecil itu. Di dalamnya terdapat selembar kertas yang bertuliskan…





    Lihat apa yang telah kamu lakukan..

    Tanah seluas 1000 hektar..

    Kakao- kakao itu akan tumbuh beberapa bulan setelah penanaman..

    Tak perlu menunggu hasilnya..

                                            100 % berusaha+doa = Manisnya hasil
               
    … jawaban atas seluruh pertanyaan Sabit.

                “Anakku, dimana ada kesulitan disitu ada kemudahan.” Bunda Risha memeluk putra yang paling membanggakannya.




    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Blogger news

    Winnie The Pooh Glitter

    About

    Blogroll