“Nda, sudah larut, ayo
bergegas tidur.” Perintah Ibu.
“Nda, ayo lah nak, jika
kamu sudah dewasa akan Bapak beri kebebasan atas keinginanmu itu. Sekarang
saatnya kamu istirahat.” Ajak Bapak.
“Tidak mau, Pak.” Kesal
Linda kembali muncul.
Kedua orang tua Linda
meninggalkan Linda di luar rumah. Keesokan paginya Linda terbangun dan masih
terkejut dengan suasana kamarnya yang berubah seperti halaman depan rumah.
Beberapa saat kemudian dia teringat bahwa semalam ia memang berdiam diri di
teras.
Karna waktu sudah
menyuruhnya untuk segera berangkat ke sekolah. Bergegaslah ia ke kamar mandi,
memakai seragam, menjadwal buku pelajaran, lalu sarapan. Ternyata Bapak dan
Ibunya sudah berada di meja makan. Linda hanya bisa tersenyum malu. Selesainya
sarapan ia langsung pamit kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke sekolah
tercinta yaitu SMP Negeri 1 Bandung.
“Pak, Linda mau masuk
dulu, boleh ya Pak? Ini kan pertama kalinya Linda telat. Boleh ya, Pak?”
permohonan Linda kepada Bapak Satpam.
Setinggi apapun rayuan
yang ditawarkan oleh siswa ataupun siswi yang telat tidak akan menggugah hati
Pak Satpam untuk membukakan gerbang sekolah. Linda harus bersedia menerima
hukuman apapun. Jam pertama sudah ia habiskan hanya untuk menuruti hukuman Pak
Satpam. Selama jam pelajaran, waktu istirahat, hingga bel pulang berbunyi,
Linda masih saja murung.
“Ini, untukmu.” Rizki
menawarkan potongan buah melon.
“Tidak, terimakasih.”
Ucap Linda singkat.
“Ayolah, Nda.” Tawaran
kedua Rizki.
Linda hanya berjalan
menuju gerbang sekolah dan menghiraukan Rizki. Ketika Linda masuk ke dalam
angkot, Rizki pun mengikutinya. Sesampainya Linda di pertigaan jalan rumahnya,
Rizki terus mengikutinya. Lalu ia berdiri di hadapan Linda dan langsung
memberikan potongan melon itu. Linda tersyenum.
“Allhamdulillah akhirnya
diterima juga.” Ucap Rizki lega.
“Hehehe, terimakasih
ya, Ki.” Ucap Linda.
Sepanjang perjalanan
mereka hanya membicarakan target di tahun ini. Misi dan taktik untuk mewujudkan
hal tersebut. Tak sadar bahwa rumah Linda sudah terlewat. Atau sengaja untuk
dilewati dan terus menuju ke sebuah tempat favorit mereka. Perkebunan melon dan
semangka.
Malam hari tiba ..
Tepat pukul 00.05 pagi,
Rizki keluar dari kamarnya dengan membawa berbagai keperluan yang akan
dibutuhkan dalam ekspedisinya. Sampailah ia di depan kamar Linda dan membantu
Linda keluar dari kamarnya. Perjalanan di mulai. Berawal dari perkebunan melon
dan semangka. Lahan demi lahan terus mereka jajaki.
Memasuki hutan
belantara nun diselimuti kabut tebal. Pohon-pohon berdiri tegak nun benteng istana.
Burung hantu bersenandung riang.
“Sstt.. ssttt..
ssstttt”
“Ki, itu suara apa?”
Tanya Linda.
“Ah, enggak ada
apa-apa, Nda. Ayo kita lanjut lagi!” jawab Rizki tenang.
Ketika Rizki
melangkahkan kakinya. Ular tak berbisa melilitnya. Linda berteriak. Tak ada
yang datang membantu. Lalu ia melihat bambu runcing menancap pada tanah.
Diambilah bambu itu dan dia tuju pada badan ular. Darah mencuat dan mengenai
kaki Rizki. Mereka berlari cepat hingga terhenti di depan sungai yang airnya
begitu jernih. Menaiki sebuah batu unik yang berwarna hijau tua. Ukurannya
sangat besar. Rizki membersihkan kakinya yang terkena darah ular. Linda
meletakkan tubuhnya di batu tersebut. Merasakan begitu halusnya permukaan batu,
membuat Linda bertanya-tanya. Ketika melihat keseluruhan batu, ia tersadar
bahwa itu adalah sebuh semangka berukuran besar. Dengan diameter satu meter.
Melihat ke sisi sungai yang lain, terdapat buah melon dengan diameter yang
sama.
“Rizkiiiiiiiiiiiii,
lihat ini semua, kita sampai di target kita!” teriak Linda.
“Waaaaaaaaaaah!” Rizki
memutari tubuhnya dan melihat sekeliling tempat ia berpijak.
Rizki mengeluarkan
pisau yang ia bawa dan mulai memotong sebagian tubuh semangka. Lalu ia
mengambil biji dari semangka itu dan disimpanlah di tempat yang aman. Begitu
pula dengan buah melon. Setelah mengumpulkan biji-biji itu mereka beristirahat
melepas lelah. Sang bintang sudah menyapa. Embun pagi bermunculan. Daun-daun
terlihat segar. Sekarang tujuan mereka adalah kembali ke garis awal
keberangkatan. Suasana hutan begitu hangat. Kali ini cahaya mentari yang
menjaga mereka. Sekarang yang berada di benak Linda dan Rizki adalah menanam
bibit buah semangka dan melon raksasa itu di kebun kesayangan mereka.
Akhirnya mereka sampai di garis awal keberangkatan.
Begitu banyak warga yang terlihat. Dari kejauhan Ibu dan Bapak Linda berlari
sambil berteriak memanggil Linda. Ternyata seluruh warga gempar dengan
hilangnya Linda sejak tengah malam. Linda dan Rizki pun menceritakan apa yang
mereka dapat. Seluruh orang yang berada di kebun itu menanam bibit
bersama-sama. Ketika bibit sudah tertanam dengan baik. Beberapa menit kemudian
tumbuhlah pohon semangka dan melon yang berdaun lebar. Tak disangka pula melon
dan semangka raksasa langsung muncul dari permukaan tanah. Kedua orang tua
Linda, Linda, Rizki, dan seluruh warga sangat terkejut dengan fenomena ini.
Target Linda dan Rizki tercapai.







0 komentar:
Posting Komentar