• put your amazing slogan here!

    Melon & Semangka Raksasa


                “Bersinarnya bintang dan rembulan dimalam ini menghilangkan kejenuhanku. Candaan lembut sang angin menghilangkan kesedihanku. Gemericik air sungai merayuku untuk kembali tersenyum.” Fikir Linda dalam lamunannya.
                “Nda, sudah larut, ayo bergegas tidur.” Perintah Ibu.
                “Nda, ayo lah nak, jika kamu sudah dewasa akan Bapak beri kebebasan atas keinginanmu itu. Sekarang saatnya kamu istirahat.” Ajak Bapak.
                “Tidak mau, Pak.” Kesal Linda kembali muncul.
                Kedua orang tua Linda meninggalkan Linda di luar rumah. Keesokan paginya Linda terbangun dan masih terkejut dengan suasana kamarnya yang berubah seperti halaman depan rumah. Beberapa saat kemudian dia teringat bahwa semalam ia memang berdiam diri di teras.
                Karna waktu sudah menyuruhnya untuk segera berangkat ke sekolah. Bergegaslah ia ke kamar mandi, memakai seragam, menjadwal buku pelajaran, lalu sarapan. Ternyata Bapak dan Ibunya sudah berada di meja makan. Linda hanya bisa tersenyum malu. Selesainya sarapan ia langsung pamit kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke sekolah tercinta yaitu SMP Negeri 1 Bandung.
                “Pak, Linda mau masuk dulu, boleh ya Pak? Ini kan pertama kalinya Linda telat. Boleh ya, Pak?” permohonan Linda kepada Bapak Satpam.
                Setinggi apapun rayuan yang ditawarkan oleh siswa ataupun siswi yang telat tidak akan menggugah hati Pak Satpam untuk membukakan gerbang sekolah. Linda harus bersedia menerima hukuman apapun. Jam pertama sudah ia habiskan hanya untuk menuruti hukuman Pak Satpam. Selama jam pelajaran, waktu istirahat, hingga bel pulang berbunyi, Linda masih saja murung.
                “Ini, untukmu.” Rizki menawarkan potongan buah melon.
                “Tidak, terimakasih.” Ucap Linda singkat.
                “Ayolah, Nda.” Tawaran kedua Rizki.
                Linda hanya berjalan menuju gerbang sekolah dan menghiraukan Rizki. Ketika Linda masuk ke dalam angkot, Rizki pun mengikutinya. Sesampainya Linda di pertigaan jalan rumahnya, Rizki terus mengikutinya. Lalu ia berdiri di hadapan Linda dan langsung memberikan potongan melon itu. Linda tersyenum.
                “Allhamdulillah akhirnya diterima juga.” Ucap Rizki lega.
                “Hehehe, terimakasih ya, Ki.” Ucap Linda.
                Sepanjang perjalanan mereka hanya membicarakan target di tahun ini. Misi dan taktik untuk mewujudkan hal tersebut. Tak sadar bahwa rumah Linda sudah terlewat. Atau sengaja untuk dilewati dan terus menuju ke sebuah tempat favorit mereka. Perkebunan melon dan semangka.
                Malam hari tiba ..
                Tepat pukul 00.05 pagi, Rizki keluar dari kamarnya dengan membawa berbagai keperluan yang akan dibutuhkan dalam ekspedisinya. Sampailah ia di depan kamar Linda dan membantu Linda keluar dari kamarnya. Perjalanan di mulai. Berawal dari perkebunan melon dan semangka. Lahan demi lahan terus mereka jajaki.
                Memasuki hutan belantara nun diselimuti kabut tebal. Pohon-pohon berdiri tegak nun benteng istana. Burung hantu bersenandung riang.
                “Sstt.. ssttt.. ssstttt”
                “Ki, itu suara apa?” Tanya Linda.
                “Ah, enggak ada apa-apa, Nda. Ayo kita lanjut lagi!” jawab Rizki tenang.
                Ketika Rizki melangkahkan kakinya. Ular tak berbisa melilitnya. Linda berteriak. Tak ada yang datang membantu. Lalu ia melihat bambu runcing menancap pada tanah. Diambilah bambu itu dan dia tuju pada badan ular. Darah mencuat dan mengenai kaki Rizki. Mereka berlari cepat hingga terhenti di depan sungai yang airnya begitu jernih. Menaiki sebuah batu unik yang berwarna hijau tua. Ukurannya sangat besar. Rizki membersihkan kakinya yang terkena darah ular. Linda meletakkan tubuhnya di batu tersebut. Merasakan begitu halusnya permukaan batu, membuat Linda bertanya-tanya. Ketika melihat keseluruhan batu, ia tersadar bahwa itu adalah sebuh semangka berukuran besar. Dengan diameter satu meter. Melihat ke sisi sungai yang lain, terdapat buah melon dengan diameter yang sama.
                “Rizkiiiiiiiiiiiii, lihat ini semua, kita sampai di target kita!” teriak Linda.
                “Waaaaaaaaaaah!” Rizki memutari tubuhnya dan melihat sekeliling tempat ia berpijak.
                Rizki mengeluarkan pisau yang ia bawa dan mulai memotong sebagian tubuh semangka. Lalu ia mengambil biji dari semangka itu dan disimpanlah di tempat yang aman. Begitu pula dengan buah melon. Setelah mengumpulkan biji-biji itu mereka beristirahat melepas lelah. Sang bintang sudah menyapa. Embun pagi bermunculan. Daun-daun terlihat segar. Sekarang tujuan mereka adalah kembali ke garis awal keberangkatan. Suasana hutan begitu hangat. Kali ini cahaya mentari yang menjaga mereka. Sekarang yang berada di benak Linda dan Rizki adalah menanam bibit buah semangka dan melon raksasa itu di kebun kesayangan mereka.
    Akhirnya mereka sampai di garis awal keberangkatan. Begitu banyak warga yang terlihat. Dari kejauhan Ibu dan Bapak Linda berlari sambil berteriak memanggil Linda. Ternyata seluruh warga gempar dengan hilangnya Linda sejak tengah malam. Linda dan Rizki pun menceritakan apa yang mereka dapat. Seluruh orang yang berada di kebun itu menanam bibit bersama-sama. Ketika bibit sudah tertanam dengan baik. Beberapa menit kemudian tumbuhlah pohon semangka dan melon yang berdaun lebar. Tak disangka pula melon dan semangka raksasa langsung muncul dari permukaan tanah. Kedua orang tua Linda, Linda, Rizki, dan seluruh warga sangat terkejut dengan fenomena ini. Target Linda dan Rizki tercapai.


    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Blogger news

    Winnie The Pooh Glitter

    About

    Blogroll