| Terik matahari menembus setiap celah daun dalam pohon mangga ini. Berumur 20 tahun tetapi tetap gagah berdiri dan memiliki banyak keturunan yang begitu subur. |
Dalam seminggu ini Sang
Kupu sering berkunjung untuk mencari nectar dalam bunga bunga di setiap ujung
ranting. Beberapa minggu kemudian sang bunga berubah menjadi buah buah yang
mungil. Pohon pun tersenyum bahagia.
Pohon mangga ini biasa di panggil Bu Pohon oleh pohon-pohon lainnya. Sikapnya
yang dewasa selalu menjadi panutan hingga ia disegani, dihormati dan disayangi
oleh semua pohon di wilayah ini. Tanah yang subur dan cuaca yang mendukung
pertumbuhan mereka membuat kenyamanan tersendiri bagi seluruh pohon. Mereka
akan tetap melindungi setiap bibit bakal calon pohon yang akan tumbuh dewasa.
Saling berbagi air dalam kekeringan. Saling berkomunikasi dengan Sang Kupu agar
dapat saling mambantu. Begitu damai perasaan mereka. Terdapat puluhan buah
mangga mungil yang sedang tumbuh. Terlihat satu buah dengan corak, bentuk tubuh
dan ukuran yang berbeda dari segerombolan buah-buah mungil itu. Bu Pohon dan
pohon lainnya bertanya tanya. Mengapa ia berbeda dari yang lainnya. Terjadi
untuk pertama kalinya dan sangat menganehkan. Dirinya sangat diperhatikan oleh
Bu Pohon. Hingga diberi nama special “ Minggi “. Nama dambaan bagi seluruh buah
mangga yang tumbuh.
“ Eh minggi, kenapa sih kita ada pada satu cabang. Gue males banget setiap hari
harus deket lo. Harus bagi makanan sama lo. Mending lo pindah aja gih ke cabang
yang lainnya !” ucap Minggrit ketus.
Kecemburuan Minggrit terhadap Minggi membuatnya harus lebih sabar. Usianya yang
masih muda belum bisa berpindah ke cabang atau mencoba untuk melepaskan diri
dari diri Bu Pohon. Ia masih harus mendapatkan cukup nutrisi untuk
dirinya.
Pada suatu malam disaat jangkrik jangkrik mulai berpesta ria dan katak katak
berdendang lepas. Minggrit dan teman temannya mencoba untuk mencelakakan Minggi
yang sedang tertidur lelap di dahan ranting. Mereka mendorong Minggi hingga ia
terjatuh di dasar tanah. Minggi tersadar ketika ia sudah merasakan betapa
dinginnya daerah bawah pohon.
“ Bu Pohon, Minggi menghilang, menghilang. “ suasana panik menyelimuti diri Bu
Pohon.
Semua warga mangga berduka dengan mengilangnya Minggi. Mereka berpendapat
mungkin Minggi sudah dibawa pergi oleh hewan terbang malam yang jahat. Bu Pohon
kini lebih sering melamunkan diri. Tak memberikan semangat kepada para
warganya. Pohon mangga ini terkejap sepi.
“ Aduh, aku harus kemana? Aku tak bisa berlama lama di bawah sini. Aku harus
segera mendapatkan nutrisi dari salah satu pohon “ cemas Minggi dalam setiap
langkahnya.
Terik mentari melayukan tubuh Minggi. Begitu banyak rintangan ketika ia
berjalan sendiri.
“ Hei kamu mangga kecil. Kenapa kamu berada ditempat seperti ini. Tak baik jika
hal itu kamu lakukan. Kemarilah bersamaku. “ Sapaan lembut sebuah pohon mangga
muda.
“ Aku
tak tahu “ Jawab Minggi lesu.
Pohon muda
itu menurunkan salah satu dahannya dan mengangkat minggi sebagai asuhannya.
Minggi tumbuh menjadi mangga yang begitu manis dan segar. Kini dirinya sudah
semakin dewasa. Dia mulai berkelana sendiri hingga mendapat begitu banyak
pengalaman. Pohon muda melepaskannya pergi agar Minggi mendapatkan apa yang ia
cari. Selalu berjalan dan mencari apa yang ia cari.
Pada
suatu malam. Minggi mulai lesu dan merasa kekurangan makanan. Ia terjatuh lemas
dan ditemukan oleh seekor kelelawar pemakan buah. Kini yang tersisa hanyalah
bakal buah dari dirinya. Hari demi hari bakal buah itu semakin tertanam,
tertanam dan tertanam dalam tanah. Hujan selalu mencurahkan kasih sayangnya
hingga menimbulkan bagian baru dari bakal buah Minggi. Bagian awal dari
tumbuhnya sebuah pohon. Berbulan bulan. Bertahun tahun. Tumbuhlah sebuah pohon
mangga yang begitu indah nan cantik. Ia tumbuh dengan nuansa baru. Minggi kin
telah menjadi pohon. Di samping Minggi terdapat pohon mangga tua yang begitu
rindang. Tak di sangka pohon tua itu adalah Bu Pohon. Ketika Minggi menumbuhkan
bunga bunga. Kupu kupu menghampirinya. Hingga melahirkan buah buah mangga yang
tak berbeda dengan dirinya ketika ia muncul ke bumi ini. Lalu Bu Pohon baru
menyadari bahwa pohon muda yang yang kini sedang berbuah itu adalah Minggi yang
dahulu ia cari.







0 komentar:
Posting Komentar